YUTFest 2026 Angkat Perspektif Urban dalam Pembacaan Kota Lewat Teater

4 hours ago 1

YUTFest 2026 Angkat Perspektif Urban dalam Pembacaan Kota Lewat Teater Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan Yogyakarta Urban Theatre Festival (YUTFest) 2026. - Stefani Yulindriani Ria

JOGJATaman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menghadirkan Yogyakarta Urban Theatre Festival (YUTFest) 2026 sebagai ruang ekspresi sekaligus pembacaan dinamika kota melalui seni pertunjukan teater. Festival ini akan digelar pada 6–8 Mei 2026 dengan melibatkan enam kelompok teater terpilih dari berbagai latar belakang.

Kepala TBY, Purwiati, menuturkan penyelenggaraan YUTFest tahun ini dirancang lebih fokus agar memberikan ruang apresiasi yang optimal bagi penonton.

“Dengan jumlah kelompok yang tampil lebih terkurasi, apresiasi penonton bisa lebih maksimal. Konsentrasi dalam menikmati pertunjukan juga lebih terjaga sehingga penonton leluasa menafsirkan karya teater tahun 2026,” ujarnya di TBY pada Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, TBY terus berkomitmen mengembangkan diri dengan terbuka terhadap masukan dan kritik yang membangun. Menurutnya, pola apresiasi penonton masa kini telah mengalami perubahan dibandingkan sebelumnya sehingga diperlukan pendekatan baru dalam penyajian karya seni.

“Pembinaan dan pelestarian tidak harus berhenti pada pakem lama tanpa melihat perkembangan zaman. Yang terpenting, karya yang dihadirkan tetap memberi manfaat dan relevan bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kurator YUTFest, Elyandra Widharta, menjelaskan tema “urban” dalam festival ini tidak semata dimaknai sebagai kehidupan kota secara harfiah. Urban diposisikan sebagai cara membaca dinamika sosial di Yogyakarta melalui gaya berekspresi kelompok teater.

“Urban menjadi perspektif untuk melihat Jogja hari ini. Kelompok-kelompok teater di DIY, baik yang tumbuh di kota maupun desa, memiliki cara masing-masing dalam merespons perubahan sosial,” katanya.

Pada tahun ini, YUTFest menerima sekitar 25 proposal melalui mekanisme open call. Proses seleksi dilakukan secara bertahap dengan menetapkan 10 nominasi terbaik yang kemudian mengikuti presentasi daring. Dari tahapan tersebut, dipilih enam kelompok yang berhak tampil.

“Kelompok yang terlibat beragam, mulai dari teater kampus, komunitas kampung, sanggar, hingga profesional. Mereka mengusung berbagai genre, seperti kolaborasi pedalangan dengan teater dan tari hingga teater dokumenter,” katanya.

Kurator lainnya, Koes Yuliadi, menekankan YUTFest menjadi ruang transisi bagi kelompok teater untuk mengembangkan gagasan kreatif sekaligus menyuarakan isu-isu sosial yang relevan.

“Taman Budaya berupaya menjadi ruang terbuka bagi eksplorasi ide. Kami berharap kelompok teater menghadirkan gagasan yang menggelitik, bahkan yang berpotensi memunculkan konflik sebagai bagian dari dinamika kreatif,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya lokalitas dalam setiap karya yang ditampilkan. Menurutnya, perpaduan antara tradisi dan kontemporer serta eksplorasi lintas disiplin menjadi kekuatan utama dalam YUTFest 2026.

Lebih jauh, konsep urban dalam festival ini dipahami sebagai metode membaca perkembangan kota yang dinamis. Menurutnya, Jogja kini tidak hanya dilihat sebagai ruang fisik, tetapi juga sebagai arena interaksi sosial yang kompleks, termasuk relasi antara wilayah urban dan rural.

Teater, dalam konteks ini, dipandang sebagai medium untuk menegosiasikan nilai, menyuarakan kritik, serta mengeksplorasi realitas sosial yang tumbuh seiring perkembangan kota.

“Teater bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga instrumen yang membantu mengoordinasikan dan mengeksplorasi ikatan sosial masyarakat. Di sinilah teater menjadi arena produktif bagi gagasan dan dialog,” jelasnya. (Advertorial)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|