69 Warga Keracunan Nasi Boks Sleman, 1 Masih Rawat Inap

1 hour ago 1

69 Warga Keracunan Nasi Boks Sleman, 1 Masih Rawat Inap Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama. - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono.

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus keracunan nasi boks di Mlati, Sleman, berdampak pada puluhan warga. Hingga kini, satu korban masih dirawat inap, sementara puluhan lainnya menjalani rawat jalan dengan gejala gangguan pencernaan.

Dugaan keracunan pangan akibat konsumsi nasi boks dalam sebuah hajatan di Kapanewon Mlati, Sleman, masih menyisakan dampak bagi warga. Hingga Senin (4/5/2026), satu orang korban masih menjalani perawatan inap di RSA UGM, sementara 39 warga lainnya menjalani rawat jalan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sleman, total 69 warga mengalami gejala keracunan dari 92 orang yang telah menjalani anamnesis di lokasi kejadian. Keluhan yang muncul meliputi diare, pusing, demam, hingga nyeri perut, dengan diare menjadi gejala paling dominan.

"Dari 69 orang tersebut ada 39 orang yang menjalani rawat jalan lewat posko. Lalu ada sepuluh orang yang memeriksakan diri ke RSA UGM, sembilan orang rawat jalan dan satu orang harus menjalani rawat inap. Kemudian ada enam orang yang menjalani pengobatan ke fasilitas kesehatan lain dan lainnya menjalani pengobatan secara mandiri," kata Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama saat ditemui di Sleman City Hall, Selasa (5/5/2026).

Selain pasien yang masih dirawat inap, terdapat sembilan warga lain yang sempat menjalani rawat jalan di RSA UGM. Sementara itu, enam orang memilih berobat ke fasilitas kesehatan lain dan 12 warga melakukan pengobatan mandiri di rumah.

Ia mengungkapkan, peristiwa ini bermula dari konsumsi makanan dalam sebuah hajatan yang digelar pada Minggu (3/5/2026) dan dihadiri sekitar 110 warga. "Gejala mulai dirasakan pada malam hari seusai acara berlangsung," ucapnya. Terkait dugaan keracunan nasi boks Sleman yang masih dalam penyelidikan lebih lanjut.

Menindaklanjuti laporan dari Puskesmas Mlati 2, tim Dinas Kesehatan Sleman bersama Field Epidemiology Training Program (FETP) UGM segera melakukan penyelidikan epidemiologi serta membuka posko kesehatan di lokasi kejadian.

Hasil investigasi awal mengarah pada menu nasi boks sebagai sumber keracunan, terutama sambal goreng krecek dengan ampela ati. "Saat ini, sampel makanan dan sampel biologis pasien masih dalam tahap pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab pasti," katanya.

Meski sebagian besar korban hanya mengalami gejala ringan hingga sedang, pemantauan terus dilakukan, khususnya terhadap pasien yang masih menjalani perawatan inap. Hingga kini, tidak ada laporan korban meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan aspek keamanan pangan, terutama dalam pengolahan dan penyajian makanan dalam jumlah besar, guna mencegah kejadian serupa.

Cahya menambahkan, kasus keracunan pangan di wilayah Mlati umumnya dipicu oleh kontaminasi bakteri akibat sanitasi pengolahan makanan yang kurang baik, dibandingkan faktor kimia.

“Dulu memang ada keracunan ketika menu Makan Bergizi Gratis, tapi ya berasal dari dapurnya. Kalau yang terbaru dari pihak kateringnya. Jadi memang benar kemungkinan besar karena kontaminasi,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|