Presiden AS Donald Trump saat rapat kabinet di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC, 26 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui bahwa dia belum siap mengambil tindakan paksa agar Iran membebaskan kembali lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Dia meminta negara-negara lain untuk ikut turun tangan agar Teheran bersedia membuka lagi selat strategis tersebut.
Hal itu disampaikan Trump kepada CBS News pada Selasa (31/3/2026). "Pada titik tertentu saya akan melakukannya (membuka paksa Selat Hormuz), belum sekarang. Tetapi negara-negara lain harus turun tangan dan mengurusnya. Iran telah hancur, tetapi mereka harus turun tangan dan melakukan pekerjaan mereka sendiri,” kata Trump.
Pada kesempatan itu, Trump pun mengeklaim bahwa tak ada ancaman nyata di Selat Hormuz. Dalam unggahan di akun Social Truth miliknya, Trump "memprovokasi" negara-negara yang menolak terlibat dalam konflik di Timur Tengah dan saat ini menghadapi kekurangan pasokan minyak agar mengumpulkan nyali untuk merenggut minyak di Selat Hormuz.
"AS tidak akan ada di sana untuk membantu Anda lagi, sama seperti Anda tidak ada di sana untuk kami. Iran pada dasarnya telah hancur. Bagian tersulit sudah selesai. Cari minyak Anda sendiri!" tulis Trump dalam unggahannya.
Dalam sebuah konferensi pers pada Selasa, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menggemakan seruan Trump agar negara-negara lain ikut berusaha membuka Selat Hormuz. “Ini adalah jalur air internasional yang kita gunakan lebih jarang daripada kebanyakan negara lain, bahkan jauh lebih jarang daripada kebanyakan negara lain,” katanya.
“Ini bukan hanya masalah kita, ke depannya, meskipun kita telah melakukan sebagian besar persiapan untuk memastikan bahwa selat itu akan tetap terbuka,” tambah Hegseth.

3 hours ago
2
















































