Harga Batu Bara Naik Jadi 123,91 Dolar AS per Ton

2 hours ago 5

Harga Batu Bara Naik Jadi 123,91 Dolar AS per Ton

Foto ilutrasi pengangkutan ekspor batubara. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga batu bara acuan (HBA) periode II Juni 2026 kembali mengalami kenaikan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan HBA sebesar US$123,91 per ton atau lebih tinggi dibandingkan periode I Juni 2026 yang berada di level US$121,83 per ton.

Kenaikan harga batu bara acuan terjadi di tengah menguatnya harga komoditas energi global yang dipengaruhi ketegangan geopolitik internasional. Pemerintah bahkan mulai menyiapkan relaksasi kuota produksi batu bara guna mengoptimalkan momentum kenaikan harga tersebut.

Berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 yang diakses pada Rabu (17/6/2026), harga batu bara acuan periode II Juni 2026 ditetapkan sebesar US$123,91 per ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan HBA periode I Juni yang tercatat sebesar US$121,83 per ton.

Dalam keputusan tersebut, pemerintah membagi harga batu bara acuan ke dalam empat kategori berdasarkan nilai kalori batu bara. Adapun rinciannya sebagai berikut:

HBA (6.322 GAR): US$123,91 per ton
HBA I (5.300 GAR): US$88,40 per ton
HBA II (4.100 GAR): US$60,19 per ton
HBA III (3.400 GAR): US$41,19 per ton

ESDM Pertimbangkan Relaksasi Produksi Batu Bara

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah tengah menyiapkan kebijakan relaksasi kuota produksi batu bara sebagai respons atas kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional.

Menurut Bahlil, kebijakan tersebut disusun secara terukur dengan mempertimbangkan perkembangan harga batu bara yang terus bergerak naik dalam beberapa bulan terakhir.

"Idealnya ketika harga bagus, produksi juga harus meningkat sehingga memberikan dampak ekonomi yang positif," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah belum menetapkan besaran tambahan produksi yang akan diberikan melalui kebijakan relaksasi tersebut.

Kuota Produksi Sempat Dipangkas pada Awal 2026

Pada awal 2026, Kementerian ESDM menetapkan kuota produksi batu bara nasional sekitar 600 juta ton. Jumlah tersebut lebih rendah sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi sepanjang 2025 yang mencapai 790 juta ton.

Pengurangan target produksi dilakukan sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi pasar global yang saat itu mengalami ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan batu bara.

Situasi tersebut sempat menekan harga batu bara hingga menyentuh level US$97,65 per ton pada periode kedua Juli 2025.

Konflik Timur Tengah Dorong Harga Batu Bara

Perubahan situasi geopolitik kemudian mengubah arah pasar energi dunia. Pecahnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal Maret 2026 memicu lonjakan harga berbagai komoditas energi, termasuk batu bara.

Dalam waktu sekitar satu pekan, harga batu bara meningkat tajam dari level di bawah US$120 per ton menjadi menembus US$130 per ton.

Kenaikan tersebut dipicu terganggunya distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di pasar internasional, sehingga sejumlah negara meningkatkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi alternatif.

Pemerintah menilai kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian nasional. Oleh karena itu, evaluasi terhadap kuota produksi batu bara terus dilakukan agar dapat menyesuaikan kebutuhan pasar sekaligus menjaga keseimbangan pasokan dalam negeri dan ekspor di tengah tingginya harga batu bara global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|