Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Petani di di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul mulai memasuki panen raya tembakau pada musim tanam ketiga atau musim kemarau. Daun tembakau basah hasil panen dihargai Rp4.500 per kilogram untuk jenis Grompol yang kini mulai dibudidayakan petani setempat.
Salah seorang petani di di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Juwadi, mengatakan tembakau menjadi salah satu komoditas andalan saat musim kemarau karena tidak membutuhkan banyak air dan memiliki nilai ekonomi yang lebih baik.
“Kalau padi hanya cukup untuk makan, tapi kalau tembakau ada keuntungan yang diperoleh setelah panen,” kata Juwadi, Sabtu (1/8/2026).
Menurut dia, tanaman tembakau telah dibudidayakan selama sekitar 2,5 bulan. Dengan usia tanam sekitar 70 hari, tanaman tersebut sudah siap dipanen.
“Yang kami tanam jenis tembakau Grompol. Ini jenis baru bagi petani di Bendung karena benihnya hasil bekerjasama dengan Perusahaan,” katanya.
Juwadi menjelaskan sebanyak 1.600 benih tembakau Grompol ditanam pada musim tanam kali ini. Selama masa pemeliharaan, tanaman tumbuh dengan baik meski ketersediaan air mulai terbatas akibat musim kemarau.
“Air masih tersedia, meski tidak banyak. Di musim kemarau ini, air mulai terbatas sehingga memilih tembakau sebagai komoditas yang ditanam,” katanya.
Ia menuturkan harga jual tembakau bergantung pada jenisnya. Untuk tembakau Grompol, harga daun basah berada di kisaran Rp4.500 per kilogram.
“Kalau kering lebih mahal lagi,” katanya.
Menurut Juwadi, harga tersebut masih berada di bawah tembakau jenis Genjah Sili atau Kemloko yang dapat mencapai Rp9.000-10.000 per kilogram untuk daun basah. Meski demikian, tembakau Grompol memiliki keunggulan karena dapat dipanen sekaligus dalam satu kali panen.
“Kalau jenis Kemloko atau Genjah Sili tidak bisa dipanen sekali karena satu batangnya bisa panen empat kali karena diambil daun yang sudah benar-benar tua. Kalau Grompol, bisa langsung dipanen semua dan langsung dibawa ke Perusahaan untuk dijual,” katanya.
Hal senada disampaikan petani tembakau lain di di Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, Suradi. Menurut dia, pemilihan jenis tembakau bergantung pada kebutuhan dan pertimbangan masing-masing petani.
“Ya kalau pengen cepat, maka pilih jenis Grompol. Tapi, memang harganya lebih rendah ketimbang jenis Genjah Sili atau Kemloko,” katanya.
Meski harga jualnya lebih rendah, Suradi mengaku budidaya tembakau tetap memberikan keuntungan. Ia memperkirakan panen kali ini menghasilkan sekitar 1,5 ton daun tembakau dan masih menyisakan keuntungan setelah dikurangi biaya pemeliharaan.
“Kami perkirakan panen kali ini bisa mendapatkan daun tembakau hingga 1,5 ton dan hasilnya masih ada sisa setelah dikurangi biaya untuk pemeliharaan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































