
Ilustrasi imigran/magnific
Harianjogja.com, JAKARTA— Krisis migran di perbatasan Spanyol-Maroko kembali menjadi sorotan setelah sekitar 60.000 orang menyeberangi wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, Ceuta, sejak Kamis (30/7/2026). Hingga Sabtu (1/8/2026), sedikitnya 67 orang dilaporkan meninggal dunia akibat penyeberangan tersebut.
Berdasarkan laporan Al Jazeera, sebagian korban tewas karena tenggelam, sementara lainnya tertimpa reruntuhan saat berupaya memanjat pemecah gelombang yang menopang pagar perbatasan. Pejabat Spanyol juga menyebut masih dimungkinkan adanya tambahan korban di sisi perbatasan Maroko.
Sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa kemudian mendesak adanya respons darurat terhadap krisis tersebut. Pemerintah Spanyol juga bergerak memulangkan para migran ilegal yang memasuki wilayahnya.
“Hampir semua orang yang memasuki Ceuta kini telah kembali ke Maroko,” ujar Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares, seperti dikutip Al Jazeera, Minggu (2/8/2026).
Sebagai langkah pengamanan, Spanyol memasang penghalang sepanjang 500 meter di perbatasan laut antara Ceuta dan Maroko. Petugas Garda Sipil mulai mengerjakan pemasangan penghalang itu pada Sabtu pagi di kawasan pemecah gelombang Tarajal yang menjadi salah satu jalur utama penyeberangan migran.
Ceuta merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Spanyol sejak 1580 dan dihuni masyarakat Kristen serta Muslim. Namun, Maroko hingga kini tidak mengakui Ceuta maupun Melilla sebagai wilayah Spanyol dan kerap menyebut keduanya sebagai wilayah pendudukan.
Selama ini Spanyol menjadi salah satu pintu masuk utama menuju Eropa bagi orang-orang yang mencari peluang ekonomi lebih baik atau melarikan diri dari konflik di negara asal. Ceuta menjadi salah satu tujuan utama para migran.
Berdasarkan laporan The Guardian, sebagian migran yang berhasil mencapai Ceuta atau Melilla langsung dipulangkan. Sementara sebagian lainnya ditempatkan di pusat penampungan sementara selama proses pengajuan suaka di Spanyol berlangsung.
Untuk mencapai Ceuta, banyak migran berenang dari Kota Fnideq di Maroko dengan jarak sekitar 5 kilometer. Sebagian lainnya mencoba menyeberang melalui Kota Belyounech yang lokasinya lebih dekat.
Peristiwa serupa pernah terjadi pada 2022 ketika sekitar 2.000 orang, mayoritas berasal dari Afrika sub-Sahara, berusaha memasuki Melilla dari Maroko. Insiden tersebut menewaskan 23 orang.
Sebelumnya pada 2014, sedikitnya 14 orang juga meninggal dunia di lepas pantai Ceuta ketika sekitar 200 orang mencoba masuk dengan memanjat pagar perbatasan atau berenang melewati pemecah gelombang yang memisahkan wilayah itu dengan Maroko.
Dalam beberapa dekade terakhir, populasi imigran di Spanyol meningkat pesat. Dari sekitar 50 juta penduduk, sekitar 10 juta orang lahir di luar negeri. Banyak di antaranya berasal dari Kolombia, Venezuela, dan Maroko yang bekerja di sektor pertanian, pariwisata, serta jasa.
Sejak pertengahan 1990-an, ribuan orang setiap tahun menyeberangi Laut Mediterania dari negara-negara Afrika Utara maupun Turki untuk mencari suaka di Eropa. Data Organisasi Internasional untuk Migrasi mencatat sebanyak 35.153 migran meninggal atau hilang di Laut Mediterania sejak 2014, termasuk 1.493 orang selama tujuh bulan pertama 2026.
Terkait gelombang migran terbaru di perbatasan Spanyol-Maroko, otoritas Maroko belum memberikan penjelasan resmi. Namun, penyeberangan massal tersebut diduga berkaitan dengan rivalitas Maroko dan Aljazair serta kunjungan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez ke Aljir pada 20 Juli yang menandai membaiknya hubungan kedua negara.
Sebelumnya, penyeberangan massal pada Mei 2021 juga terjadi setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan saat berselisih diplomatik dengan Spanyol terkait keputusan Madrid memberikan perawatan Covid-19 kepada pemimpin Front Polisario.
Maroko dan Front Polisario sama-sama mengklaim Sahara Barat yang berada di bawah kekuasaan Spanyol hingga 1975 sebelum diserahkan kepada Maroko dan Mauritania.
Peneliti migrasi di Institut Studi Politik Internasional Italia, Matteo Villa, menilai faktor politik kemungkinan menjadi salah satu pemicu utama gelombang migran terbaru.
"Apa yang terjadi pada tahun 2021 adalah versi skala kecil dari apa yang terjadi kemarin. Maksud saya, 50.000 orang tidak datang dalam semalam, padahal biasanya hanya ratusan orang per bulan. Kepergian Sánchez ke Aljazair adalah sesuatu yang tidak disukai Maroko," ujarnya.
Villa menduga Maroko kemungkinan melonggarkan pengawasan perbatasan untuk menunjukkan kendali yang dimilikinya, sekaligus memicu reaksi dari negara-negara Eropa.
"Mereka senang melihat semua pertikaian antar negara-negara Eropa,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































