Upaya Kurangi Kesenjangan Komunikasi Talenta Indonesia dengan Mendorong Kinerja Bisnis di Era AI

7 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap dunia kerja secara fundamental. Tantangannya kini tidak lagi sekadar mengadopsi teknologi, tetapi memastikan organisasi memiliki talenta yang siap memanfaatkannya secara optimal. Berdasarkan Work Trend Index 2024 dari Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah menggunakan generative AI dalam pekerjaannya sehari-hari. Namun, Cisco AI Readiness Index 2025 menunjukkan bahwa hanya 23 persen organisasi di Indonesia yang masuk kategori “Pacesetters” atau siap sepenuhnya memanfaatkan potensi AI. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan transformasi AI tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia.

Seiring meningkatnya adopsi AI, kebutuhan terhadap keterampilan manusia juga semakin tinggi. World Economic Forum memproyeksikan analytical thinking, resilience, creative thinking, technology literacy, serta AI and big data sebagai kompetensi utama hingga 2030. Untuk mengembangkan keterampilan tersebut dalam lingkungan kerja yang semakin global, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris menjadi semakin penting. Namun, kemampuan bahasa Inggris masih menjadi tantangan bagi banyak tenaga kerja Indonesia yang masih berada dalam kategori low proficiency menurut EF English Proficiency Index 2025. Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga organisasi. Studi global IDC (2025) menunjukkan bahwa 78 persen perusahaan mengalami kendala dalam interaksi dengan klien, mitra bisnis, dan ekspansi pasar akibat hambatan bahasa, sementara 74 persen menyatakan hambatan komunikasi turut mempengaruhi kolaborasi internal dan pengambilan keputusan.

Di sisi lain, tantangan ini tidak selalu disebabkan oleh kurangnya pemahaman bahasa Inggris. Banyak profesional sebenarnya telah memahami bahasa Inggris, namun belum percaya diri menggunakannya dalam situasi kerja nyata. Kesenjangan antara memahami dan mampu berkomunikasi secara efektif dapat membatasi produktivitas, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi secara optimal. Karena itu, pengembangan kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris perlu menjadi bagian dari strategi pengembangan talenta perusahaan untuk meningkatkan Global Workforce Readiness, dimana karyawan mampu menjadi pemimpin dan mampu menghadapi dinamika bisnis tingkat global serta memaksimalkan nilai bisnis yang dihasilkan dari transformasi digital.

Yasser Muhammad Syaiful, Country Director ELSA Business Indonesia mengatakan, di era AI, kesiapan organisasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan talenta untuk beradaptasi, berkomunikasi, dan memanfaatkannya secara efektif.

"Karena itu, investasi pada pengembangan keterampilan menjadi kunci untuk membangun yang lebih siap menghadapi perubahan serta meningkatkan Global Workforce Readiness," ujar dia.

ELSA Business melalui ELSA Enterprise AI Learning Agent, platform yang menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang dipersonalisasi sesuai dengan peran, kebutuhan, dan konteks pekerjaan setiap karyawan. Dengan memanfaatkan AI coach dan simulasi berbasis real-world business scenario, peserta dapat berlatih komunikasi profesional dalam situasi yang relevan dengan pekerjaan sehari-hari. Selain memberikan pengalaman belajar yang lebih praktis dan fleksibel, platform ini juga dilengkapi dashboard analitik yang memungkinkan perusahaan memantau perkembangan secara real-time. Pendekatan berbasis AI ini membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan kepercayaan diri dalam berkomunikasi, sekaligus mendukung kesiapan talenta untuk beradaptasi dan berkembang di era AI.

Secara global, ELSA Business telah dipercaya oleh lebih dari 1.300 organisasi di dunia dalam mendukung pengembangan keterampilan komunikasi karyawan. Di Indonesia, salah satu implementasinya dilakukan bersama PLN yang membutuhkan peningkatan kemampuan komunikasi bahasa Inggris bagi lebih dari 1.500 karyawan untuk mendukung kerja sama dan kolaborasi di sektor energi internasional. Melalui program pembelajaran berbasis AI, ELSA Business memungkinkan pelatihan yang terukur dan dapat diterapkan dalam skala besar, sesuatu yang sulit dicapai melalui metode pelatihan konvensional. Hasilnya, program ini mencatat peningkatan produktivitas hingga 145 persen, 84 persen peserta mengalami peningkatan English Proficiency Score (EPS) lebih dari 10 persen, serta 98 persen menunjukkan kemajuan dalam enam bulan pertama pembelajaran.

"Di ELSA Business, kami percaya bahwa kemampuan komunikasi bukan hanya keterampilan bahasa, tetapi salah satu faktor yang menentukan kesiapan talenta di era AI. Ketika perusahaan berinvestasi pada pengembangan komunikasi, mereka tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga memperkuat kolaborasi, produktivitas, dan kemampuan organisasi untuk beradaptasi terhadap perubahan. Melalui teknologi AI, ELSA Business membantu perusahaan menghadirkan pembelajaran yang lebih personal, kontekstual, dan terukur, sehingga pengembangan talenta dapat memberikan dampak yang nyata bagi kesiapan tenaga kerja maupun pertumbuhan bisnis,” ungkap Yasser.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|