Produk Bagus Saja tak Cukup, Ini Tantangan UMKM di Era Digital

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produk berkualitas belum otomatis membuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkembang di tengah persaingan digital. Pelaku usaha juga perlu membangun merek, meningkatkan visibilitas produk, serta memanfaatkan berbagai kanal digital untuk menjangkau konsumen.

Executive Director Tokopedia & TikTok Shop Indonesia Stephanie Susilo mengatakan, kemampuan tersebut menjadi faktor penting agar UMKM dapat memperluas pasar secara berkelanjutan.

“Kami percaya setiap UMKM Indonesia memiliki potensi untuk terus berkembang apabila didukung oleh kapabilitas yang tepat, peluang untuk lebih mudah ditemukan oleh konsumen, serta ekosistem yang kuat,” ujar Stephanie dalam diskusi #BeliLokal, Kamis (13/8/2026).

Menurut Stephanie, brand awareness masih menjadi tantangan bagi sebagian pelaku usaha. Produk yang berkualitas perlu didukung strategi untuk meningkatkan visibilitas, antara lain melalui konten, live shopping, kreator, dan afiliator.

Pengalaman tersebut dirasakan Group Brand Manager Facetology Satrio Arief. Ia mengatakan, salah satu tantangan dalam membangun merek lokal adalah mendapatkan kepercayaan sekaligus memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Satrio menilai kolaborasi dengan kreator dapat membantu merek menjangkau segmen konsumen yang lebih beragam. Namun, kerja sama tersebut perlu disesuaikan dengan karakter audiens masing-masing kreator.

“Peran kreator itu sangat penting karena untuk mengenalkan sesuatu kita tidak bisa bergerak sendirian. Saat kita bergerak bersama-sama itu bisa mempercepat jalan untuk mengenalkan ke orang yang lebih banyak,” ujar Satrio.

Ia mengatakan, pemanfaatan konten dan live streaming juga tidak semata digunakan untuk berjualan. Kanal tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan produk sekaligus membangun interaksi dengan konsumen.

Pengalaman serupa datang dari Owner Apelicious Lisa Amalia. Produk camilan sehat berbahan buah dan sayur lokal tersebut dikembangkan sejak 2018, tetapi Lisa mengaku membutuhkan waktu untuk memperkenalkannya kepada pasar yang lebih luas.

Momentum tersebut mulai terasa setelah Apelicious bergabung ke Tokopedia dan TikTok Shop pada 2021. Produk yang awalnya berupa keripik apel kemudian berkembang menjadi berbagai olahan buah dan sayur.

“Awalnya ada sebuah ketidakpercayaan diri sebenarnya untuk mengenalkan produk ini ke audiens yang lebih luas. Setelah bergabung, kami tidak menyangka sekitar satu bulan produk menjadi trending,” ujar Lisa.

Menurut Lisa, konten menjadi salah satu cara utama untuk membangun kesadaran konsumen. Ia menyebut sekitar 40 persen penjualan Apelicious berasal dari video, sementara live streaming juga memberikan kontribusi besar.

Namun, persaingan produk lokal tidak berhenti pada kemampuan menjangkau konsumen. Lisa mengatakan, pelaku usaha juga perlu memiliki pembeda dan nilai yang kuat agar tidak terjebak dalam perang harga dengan produk nonlokal.

“Lebih mengedepankan komunitas. Orang sudah percaya maka akan sharing-sharing, membangun kepercayaan, terus membangun awareness,” katanya.

Dari sisi pemerintah, Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman menilai dukungan terhadap UMKM juga tidak cukup hanya berupa pembukaan akses pasar. Pelaku usaha membutuhkan pendampingan, peningkatan kapasitas, legalitas, serta jejaring agar mampu meningkatkan skala bisnis.

Dengan demikian, tantangan UMKM di era digital tidak lagi sebatas masuk ke platform daring. Pelaku usaha perlu memahami cara membangun merek, membaca perilaku konsumen, memanfaatkan konten dan kreator, sekaligus memperkuat fondasi bisnis agar pertumbuhan tidak berhenti pada peningkatan penjualan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|