REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemunculan harimau sumatera di sekitar permukiman warga Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menimbulkan kekhawatiran setelah dua ekor kambing dilaporkan dimangsa. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar kemudian mengevakuasi harimau tersebut setelah memasang perangkap pada Selasa (11/8/2026).
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Ristianto Pribadi mengatakan, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) pertama kali dilaporkan memangsa dua kambing milik warga pada Senin (10/8/2026). Satwa tersebut juga sempat berkeliaran di sekitar permukiman, termasuk area sekolah.
“Pada hari Senin pukul 16.30 WIB BKSDA Sumbar menerima laporan dari masyarakat bahwa dua ekor kambing milik warga menjadi korban terkaman Harimau Sumatera. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) segera turun ke lapangan untuk verifikasi,” kata dia melalui keterangannya, Kamis (13/8/2026).
Hasil verifikasi petugas menemukan satu kambing mati di dalam kandang dengan luka gigitan pada bagian leher. Sementara kambing lainnya dibawa harimau ke semak-semak dan hanya menyisakan dua kaki bagian depan.
Keberadaan harimau di sekitar permukiman dan fasilitas pendidikan tersebut membuat masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Interaksi negatif antara harimau dan warga juga pernah terjadi pada akhir Juli 2026 dengan korban berupa anjing dan kambing milik warga.
BKSDA Sumbar kemudian memasang perangkap box trap pada Selasa sekitar pukul 18.00 WIB untuk menangkap satwa tersebut. Sekitar 1 jam 45 menit kemudian, tim menerima laporan bahwa harimau telah masuk ke dalam perangkap.
Harimau tersebut selanjutnya dievakuasi oleh tim di lapangan dengan bantuan aparat dan warga setempat. Proses evakuasi dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan masyarakat sekaligus kondisi satwa.
“Evakuasi dilakukan dengan mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus meminimalkan risiko terhadap satwa,” ujar Ristianto.
Setelah dievakuasi, harimau sumatera tersebut dititipkan di lembaga konservasi untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Tim medis dan dokter hewan akan memeriksa kondisi kesehatan satwa sebelum menentukan langkah konservasi berikutnya.
Ristianto mengatakan, penanganan konflik harimau di Agam sejalan dengan kebijakan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam menangani konflik manusia dan satwa liar. Penanganan dilakukan tidak hanya setelah konflik terjadi, tetapi juga melalui deteksi dini dan penanganan satwa secara terukur.
Ia juga mengimbau masyarakat di sekitar lokasi untuk meningkatkan kewaspadaan karena kawasan tersebut berpotensi menjadi jalur pergerakan satwa liar. Warga diminta menghindari aktivitas seorang diri, terutama pada malam hari.
Masyarakat juga diminta tidak mendekati, mengejar, atau mencoba menangkap satwa liar apabila kembali terlihat.
“Masyarakat harus segera melaporkan kemunculan satwa kepada BKSDA atau aparat setempat agar dapat ditangani secara aman dan terukur,” kata dia.

2 hours ago
5















































