Jumali Sabtu, 04 Juli 2026 11:57 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Nama Sarwendah menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah muncul sebuah petisi daring yang mengajak masyarakat untuk menghentikan dukungan terhadap berbagai aktivitas publiknya. Petisi tersebut ramai dibagikan di berbagai platform dan memicu beragam tanggapan dari warganet.
Berdasarkan pantauan pada platform petisi online, Change.org, dokumen yang berjudul "Cancel Sarwendah dari Media Sosial" telah memperoleh puluhan ribu dukungan. Dalam petisi tersebut, penggagas menyampaikan sejumlah kritik terhadap sikap dan perilaku Sarwendah yang dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi sebagian publik.
Isi petisi tidak hanya menyerukan penghentian dukungan di media sosial, tetapi juga mengajak pelaku usaha dan pemilik merek untuk mempertimbangkan kembali kerja sama promosi yang melibatkan Sarwendah. Ajakan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi di berbagai kanal media sosial.
Sejumlah komentar yang muncul di kolom dukungan petisi menunjukkan adanya kekecewaan sebagian warganet terhadap pernyataan maupun aktivitas yang dilakukan Sarwendah di ruang publik. Mereka menilai figur publik memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap dan komunikasi karena menjadi sorotan masyarakat luas.
Namun demikian, tidak sedikit pula pengguna media sosial yang mempertanyakan urgensi petisi tersebut. Sebagian pihak menilai perbedaan pendapat atau konflik personal seharusnya tidak menjadi alasan untuk melakukan pemboikotan secara massal terhadap seseorang.
Perdebatan mengenai batas kritik publik terhadap figur publik pun kembali mencuat. Fenomena ini menunjukkan bagaimana media sosial dapat dengan cepat membentuk opini dan mendorong munculnya gerakan dukungan maupun penolakan terhadap tokoh tertentu.
Ramainya petisi tersebut terjadi di tengah perhatian publik terhadap dinamika hubungan Sarwendah dan mantan suaminya, Ruben Onsu. Berbagai isu yang berkaitan dengan keluarga mereka belakangan menjadi bahan pembicaraan di media sosial dan kanal hiburan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Sarwendah terkait petisi yang beredar tersebut. Pihak yang bersangkutan juga belum memberikan tanggapan terbuka mengenai tuntutan yang disampaikan para penggagas petisi.
Pengamat komunikasi digital menilai fenomena seperti ini menjadi gambaran bagaimana reputasi figur publik kini sangat dipengaruhi oleh persepsi masyarakat di dunia maya. Dukungan maupun kritik dapat berkembang dengan cepat seiring tingginya interaksi pengguna media sosial.
Di sisi lain, munculnya petisi daring juga memperlihatkan semakin besarnya peran platform digital sebagai sarana masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Namun, setiap informasi yang beredar tetap perlu disikapi secara kritis dan proporsional agar tidak memicu kesimpulan yang terburu-buru sebelum seluruh fakta terungkap secara lengkap.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang digital tidak hanya menjadi tempat membangun popularitas, tetapi juga arena yang dapat memengaruhi citra seseorang dalam waktu singkat. Perkembangan lebih lanjut terkait polemik tersebut masih menjadi perhatian publik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































