Polresta Jogja bersama dengan Pemkot Jogja menggelar Apel Gelar Pasukan Pengamanan Ketertiban dalam rangka Hari Raya Idul Fitri pada Kamis (12/3/2026). - Stefani Yulindriani.
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja bersama Polresta Jogja tengah mematangkan berbagai langkah strategis guna mengantisipasi ledakan jumlah pelancong selama periode libur Lebaran 2026.
Fokus utama persiapan ini mencakup peningkatan standar pelayanan hospitality bagi wisatawan hingga penguatan aspek keamanan di berbagai titik vital yang diprediksi bakal menjadi pusat konsentrasi massa.
Wakil Wali Kota Jogja, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk PT Kereta Api Indonesia (KAI), demi memastikan pengalaman berwisata yang lebih humanis.
Komitmen untuk menghadirkan kesan kota yang ramah dan santun terus diperkuat guna menjaga citra positif Yogyakarta sebagai destinasi utama bagi para pemudik maupun wisatawan mancanegara.
“Kemarin juga kami ada komunikasi dengan KAI. Jadi mereka mulai dari porter pun sudah kita minta untuk berlaku lebih santun kepada para tamu. Ini menjadi pencitraan untuk Kota Jogja bahwa Jogja siap menerima tamu, mereka mudik, kebersihan juga kita tetap jaga,” katanya di Balaikota Jogja pada Kamis (12/3/2026).
Wawan memprediksi pola pergerakan masyarakat pada Idulfitri kali ini akan menyerupai tren libur Natal dan Tahun Baru, di mana sirkulasi arus kendaraan masuk dan keluar akan sangat dinamis meski durasi menginap diperkirakan masih stabil.
“Diperkirakan juga akan sama seperti waktu kemarin Natal dan Tahun Baru meningkat kalau untuk sirkulasinya, tapi kalau yang stay mungkin tidak jauh berbeda dengan itu,” katanya melanjutkan.
Untuk mengawal mobilitas tersebut, jajaran Pemkot Jogja bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta Polda DIY akan diterjunkan langsung ke lapangan guna memantau pusat-pusat keramaian di jantung kota.
Salah satu isu krusial yang menjadi perhatian serius adalah praktik pungutan liar atau tarif tidak wajar yang kerap dikeluhkan wisatawan.
Wawan secara tegas meminta para pengunjung untuk berani bersuara dan melaporkan segala bentuk pelanggaran, mulai dari harga makanan yang tidak transparan hingga tarif parkir yang melambung tinggi atau dikenal dengan istilah 'nuthuk'.
“Apabila ada menemukan hal-hal yang negatif seperti parkir yang ‘nuthuk’ ataupun makanan yang dijual harganya melebihi dari wajar, segera dilaporkan ke kami. Wisatawan jangan takut melapor karena itu harus kita tindak sesuai komitmen yang sudah kita berikan,” katanya.
Senada dengan hal tersebut, Wakapolresta Jogja, AKBP Robertus Kokok, mengonfirmasi kesiapan sumber daya manusia hingga sarana pendukung melalui pendirian lima posko utama.
Posko tersebut akan disiagakan di lokasi-lokasi strategis meliputi Pos Terpadu Teteg, Pos Pengamanan Tugu, Titik Nol Kilometer, Stasiun Tugu, hingga kawasan Gembira Loka (Bonbin).
Terkait pengawasan kantong parkir, kepolisian telah bersinergi dengan instansi terkait untuk melakukan tindakan preventif dan edukatif terhadap para juru parkir agar tidak melakukan aksi yang merugikan nama baik daerah.
“Kita sudah koordinasi dengan dinas terkait dan juga mengingatkan juru parkir agar tidak melakukan tindakan yang merugikan konsumen,” jelas Kokok.
Meskipun penertiban terhadap praktik parkir liar tetap dikedepankan dengan cara-cara persuasif karena berkaitan erat dengan aspek ekonomi lokal, petugas di lapangan tidak akan segan mengambil tindakan tegas jika terjadi pelanggaran hukum.
Selain faktor keamanan, manajemen rekayasa lalu lintas juga menjadi prioritas, terutama untuk mengurai potensi kemacetan di kawasan Kridosono sebagai imbas dari penutupan Jembatan Kewek.
Petugas akan melakukan pengaturan arus kendaraan secara situasional untuk menjamin kenyamanan mobilitas masyarakat selama merayakan hari kemenangan di Kota Pendidikan ini agar tetap lancar dan kondusif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































