Harianjogja.com, JOGJA—Situasi internal Yamaha di MotoGP 2026 kembali menjadi sorotan setelah mantan pebalap MotoGP, Neil Hodgson, meminta tim asal Jepang itu menghentikan komentar Fabio Quartararo kepada media.
Hodgson menilai keluhan Quartararo yang terus berulang soal performa motor Yamaha mulai terlalu negatif dan tidak lagi membantu situasi tim. Menurutnya, Yamaha perlu mengambil kendali komunikasi agar tekanan di dalam tim tidak semakin besar.
“Jika saya berada di departemen komunikasi Yamaha, saya akan mengatakan kepadanya ‘cukup’. Saya tidak akan membiarkannya berbicara kepada media lagi karena itu sangat negatif,” ujar Hodgson dikutip dari Motosan.
Meski demikian, Hodgson mengakui apa yang disampaikan Quartararo sebenarnya bukan tanpa alasan. Pebalap berjuluk El Diablo itu dinilai memang sedang frustrasi karena Yamaha belum menunjukkan perkembangan signifikan di MotoGP musim ini.
“Saya menyukai Fabio, dia orang yang sangat baik, sangat ramah, tetapi menurut saya dia sangat kompetitif,” kata Hodgson.
Menurut Hodgson, tekanan yang terus diberikan Quartararo melalui media kemungkinan memang disengaja agar Yamaha tidak bekerja terlalu lambat dalam memperbaiki motor mereka.
“Saya pikir dia ingin terus menekan Yamaha karena jika tidak, mereka akan bekerja dengan lambat,” tambahnya.
Kritik terhadap situasi Yamaha muncul setelah performa tim Garpu Tala pada empat seri awal MotoGP 2026 jauh dari harapan. Hingga kini, Yamaha masih kesulitan bersaing di papan depan.
Hasil terbaik Yamaha musim ini baru sebatas posisi ketujuh pada sprint race MotoGP Spanyol 2026. Sementara dalam main race, pencapaian terbaik mereka hanya finis di posisi ke-14, termasuk pada MotoGP Thailand dan MotoGP Spanyol.
Fabio Quartararo sendiri beberapa kali secara terbuka mengungkapkan rasa kecewanya terhadap performa motor Yamaha. Pebalap asal Prancis itu bahkan mengaku belum melihat perubahan besar dari sisi teknis timnya.
Situasi tersebut membuat Quartararo mulai pesimistis menghadapi MotoGP Prancis di Sirkuit Le Mans akhir pekan ini. Balapan kandang yang biasanya menjadi momen spesial justru dibayangi keraguan karena performa motor belum kompetitif.
Bagi penggemar Yamaha, kondisi ini menjadi pukulan besar mengingat tim asal Jepang tersebut pernah mendominasi MotoGP dalam beberapa musim sebelumnya. Kini Yamaha justru kesulitan menembus persaingan papan atas.
Keluhan Quartararo yang terus muncul di media juga mulai memunculkan perdebatan di kalangan pengamat MotoGP. Sebagian menilai kritik terbuka memang dibutuhkan agar Yamaha bergerak lebih cepat, tetapi ada pula yang khawatir hal itu justru menurunkan moral tim dan teknisi di dalam garasi.
Hodgson sendiri menilai fokus utama Yamaha saat ini seharusnya berada pada pembenahan teknis motor, bukan polemik komentar di media.
“Cukup,” tegas Hodgson.
Meski demikian, Quartararo tampaknya belum akan berhenti melontarkan kritik selama motor Yamaha belum mampu bersaing dengan Ducati, KTM, maupun Aprilia. Situasi ini membuat MotoGP Prancis akhir pekan nanti semakin menarik untuk dinantikan, terutama melihat bagaimana respons Yamaha terhadap tekanan dari pebalap utamanya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































