Baru 10 Menit Pakai AI, Kemampuan Memecahkan Masalah Bisa Menurun

2 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah penelitian terbaru mengungkap dampak penggunaan chatbot AI terhadap kemampuan manusia dalam berpikir dan memecahkan masalah. Studi tersebut menemukan bahwa penggunaan AI dalam waktu singkat saja sudah dapat memengaruhi ketekunan seseorang saat menghadapi tantangan.

Penelitian ini dilakukan oleh gabungan peneliti dari Carnegie Mellon University, Massachusetts Institute of Technology, University of Oxford, dan University of California Los Angeles.

Dalam laporan yang dikutip dari Wired pada Kamis (7/5/2026), para peserta penelitian diminta menyelesaikan berbagai jenis soal, mulai dari matematika dasar hingga tes pemahaman bacaan.

Sebagian peserta diberikan akses menggunakan chatbot AI untuk membantu menjawab pertanyaan. Namun pada tahap berikutnya, akses AI tersebut dihentikan secara tiba-tiba.

Hasilnya, peserta yang sebelumnya menggunakan AI lebih sering menyerah atau memberikan jawaban yang salah dibanding peserta yang sejak awal mengerjakan soal tanpa bantuan AI.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan jangka pendek terhadap AI saja sudah cukup memengaruhi kemampuan bertahan dan usaha manusia dalam menyelesaikan masalah secara mandiri.

Salah satu peneliti dari MIT, Michiel Bakker, mengatakan hasil penelitian ini bukan berarti teknologi AI harus dijauhi atau dilarang di lingkungan pendidikan maupun pekerjaan.

“AI memang jelas bisa membantu orang bekerja lebih baik dalam jangka pendek, dan itu memiliki nilai positif, tetapi kita harus lebih berhati-hati mengenai jenis bantuan yang diberikan AI dan kapan bantuan itu digunakan,” ujar Bakker.

Menurutnya, kemampuan untuk terus mencoba saat menghadapi kesulitan merupakan bagian penting dalam proses belajar dan pengembangan keterampilan manusia.

Masalah muncul ketika AI terlalu sering memberikan jawaban instan tanpa mendorong pengguna berpikir lebih dulu. Situasi itu dinilai dapat mengurangi dorongan alami manusia untuk mencari solusi sendiri.

Karena itu, Bakker menilai sistem AI di masa depan sebaiknya tidak hanya berfungsi sebagai mesin pemberi jawaban cepat, melainkan menjadi pendamping belajar yang mampu membimbing pengguna secara bertahap.

“Sistem yang langsung memberikan jawaban kemungkinan memiliki dampak jangka panjang yang sangat berbeda dibanding sistem yang membimbing, melatih, atau menantang pengguna,” katanya.

Ia menjelaskan AI ideal seharusnya membantu pengguna memahami proses penyelesaian masalah, memberikan tantangan, dan mendorong kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar menyodorkan hasil akhir.

Bagi pelajar, mahasiswa, maupun pekerja kantoran yang kini semakin akrab dengan chatbot AI, penelitian ini menjadi pengingat penting agar tidak terlalu bergantung pada teknologi.

Pengguna disarankan mencoba menyelesaikan masalah secara mandiri terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI. Dengan cara itu, AI tetap berfungsi sebagai alat bantu belajar dan bekerja, bukan menggantikan proses berpikir manusia sepenuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|