Pegawai Kantoran Makin Tertekan, Masa Depan Jauh Lebih Berat

9 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring perkembangan teknologi digital, kelas pekerja makin sulit menjalani konsep 'work-life balance', yakni keseimbangan antara waktu kerja dan kehidupan pribadi. 

Jaringan internet yang membuat manusia modern terhubung 24 jam penuh dalam sehari, membuat petinggi-petinggi kantor bisa mengakses interaksi dengan karyawan kapan pun dan di mana pun. 

Konsep 'fleksibilitas waktu kerja' seakan meringankan, tetapi justru membawa beban emosional kerja tanpa batasan waktu. Belum lagi perkembangan media sosial yang mengubah total lanskap bisnis. 

Kelas pekerja dipaksa untuk selalu beradaptasi dengan perubahan dan inovasi teknologi, sembari waswas jika suatu saat relevansi mereka tergantikan teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI).

Perusahaan menuntut produktivitas, efisiensi, dan pertumbuhan, sembari mengesampingkan kesehatan mental dan fisik pekerja. Jika saat ini tekanan sudah berat bagi karyawan kantoran, maka di masa depan situasinya digadang-gadang makin parah.

Ketika AI benar-benar mendominasi, teknologi tersebut diramal akan berubah seperti 'bos' dengan sifat micromanaging. Hal ini diungkap CEO Nvidia, Jensen Huang, salah satu pihak paling diuntungkan oleh ledakan AI.

Huang mengatakan AI akan membuat pegawai lebih sibuk, bahkan 'menempel' sepanjang waktu. Cukup familiar dengan situasi saat ini, tetapi intensitasnya agaknya akan lebih tinggi. 

"Agen AI mengganggu Anda, mengelola Anda secara mikro dan membuat Anda lebih sibuk dari sebelumnya," kata Huang, dalam diskusi di Universitas Stanford, dikutip dari Futurism, Kamis (30/4/2026).

Namun, Huang mencatat tekanan ini juga akan membawa dampak positif, yakni lebih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pada akhirnya, hal ini dinilai akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

Gambaran tersebut agak berbeda dengan narasi soal AI yang menjadi alasan PHK banyak perusahaan dan orang-orang kehilangan pekerjaan.

"Akan ada lebih banyak orang yang bekerja di akhir revolusi industri dibandingkan awal revolusi ini," kata Huang.

Hal serupa pernah diungkapkan Huang awal tahun ini. Ia menyebut pemimpin perusahaan berpikir sempit jika ingin mengurangi jumlah karyawan karena AI.

Ia menekankan perusahaan akan membutuhkan sumber daya yang lebih banyak dengan kehadiran AI.

"Bagi perusahaan yang visioner, Anda akan melakukan banyak hal dengan sumber daya yang lebih banyak," kata Huang.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|