Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mulai melonggarkan pembatasan internet setelah hampir tiga bulan pemblokiran yang membuat warga sulit berkomunikasi dan aktivitas ekonomi terganggu.
Otoritas keamanan tertinggi negara itu menyetujui skema sementara bernama Internet Pro yang memungkinkan pelaku usaha mengakses internet global dengan pembatasan lebih ringan.
Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani mengatakan kebijakan ini diambil untuk menjaga keberlangsungan bisnis selama masa krisis.
"Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menyetujui skema Internet Pro untuk menjaga kelangsungan bisnis selama masa krisis," ujarnya kepada media Iran, dikutip dari Reuters, Rabu (2/4/2026).
Ia menegaskan kebijakan tersebut bersifat sementara dan akan disesuaikan setelah kondisi dinyatakan normal.
"Begitu situasi dinyatakan normal oleh otoritas terkait, kondisi internet juga akan berubah," kata dia.
Mohajerani juga menekankan pemerintah menganggap akses internet sebagai hak sipil. Pemblokiran internet di Iran berlangsung sejak awal Januari menyusul protes nasional anti-pemerintah.
Koneksi sempat pulih pada Februari, namun kembali diputus setelah dimulainya serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Menurut lembaga pemantau NetBlocks, sebagian besar warga Iran tidak dapat mengakses internet global selama sekitar 60 hari terakhir. Hanya sebagian kecil yang dapat menggunakan VPN mahal untuk menembus pembatasan. Dalam kondisi normal, Iran memang menerapkan sensor ketat terhadap banyak situs global.
Pemerintah juga mengandalkan intranet domestik untuk layanan publik, termasuk sistem pendidikan yang saat ini berjalan secara daring.
Namun pembatasan dalam waktu lama ini memicu tekanan ekonomi. Gangguan internet diperkirakan menyebabkan kerugian harian sebesar US$30 juta hingga US$40 juta secara langsung, dan hingga US$80 juta jika termasuk dampak tidak langsung, menurut Afshin Kolahi dari Kamar Dagang Iran.
Pemutusan koneksi juga berdampak luas pada pasar tenaga kerja. Banyak warga kehilangan pekerjaan sejak perang dimulai, sementara harga-harga melonjak akibat kerusakan pada pabrik, infrastruktur energi, dan jaringan transportasi.
Pemblokiran internet tidak hanya menghantam ekonomi digital, tetapi juga sektor lain yang bergantung pada aktivitas online. Freelancer dan usaha kecil menjadi kelompok paling terdampak karena pendapatan mereka sangat bergantung pada konektivitas.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































