Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 98 mata air di kawasan Bandung Utara ditemukan mengalami penurunan debit. Beberapa di antaranya adalah Mata Air Ciwangun dan Mata Air Cibadak yang terus menyusut.
Temuan tersebut diungkapkan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi (PRSDG) BRIN, Ananta Purwoarminta dalam studi kasus berjudul "Hidrogeologi Mata Air Endapan Vulkanik".
Ananta menjelaskan kondisi yang ditemukannya terjadi karena alih fungsi lahan secara masif terjadi di zona tangkapan air atau recharge area. Perubahan tutupan lahan dapat mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, pada akhirnya berdampak langsung dengan ketersediaan air tanah di Cekungan Bandung.
"Karakteristik hidrogeologi vulkanik di Bandung Utara sangat unik, di mana air hujan meresap melalui batuan permeabel pada ketinggian 1.200 hingga 1.700 mdpl. Namun efektivitas resapan terganggu akibat hilangnya area resapan alami," jelas Ananta dikutip dari laman resmi BRIN, Selasa (28/4/2026).
Riset itu menggunakan teknologi isotop lingkungan dan hidrogeokimia untuk menelusuri asal-usul dan aliran air tanah. Dengan melakukan kajian dapat menetapkan dasar zona lindung yang bebas dari pembangunan fisik.
BRIN juga menawarkan penerapan teknologi imbuhan buatan. Tujuannya agar dapat mengoptimalkan pengisian ulang air tanah.
Teknologi tersebut dilakukan dengan cara pembangunan sumur serapan, biopori, dan parit imbuhan. Semuanya dirancang secara terukur agar dapat mengarahkan air hujan masuk ke dalam akuifer.
Cara yang dilakukan diharapkan bisa mengompensasi berkurangnya area resapan alami, juga menjaga keseimbangan neraca air tanah secara berkelanjutan.
Ananta juga menyoroti terkait pergeseran ilmu kebumian. Bukan hanya berfokus pada eksploitasi sumber daya, namun ilmu itu mendukung pula soal transisi energi bersih dan pencapaian target net zero emission.
Salah satu potensinya adalah soal pengembangan sumber energi non-konvensional seperti gas hidrogen alami.
Menurutnya sangat penting untuk melakukan tata kelola sumber daya adaptif pada perubahan lingkungan. Perlindungan zona tangkapan aiar dinilai jadi langkah fundamental dalam menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat.
"Sinergi antara riset kebumian dan kebijakan tata ruang yang tepat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan," dia menjelaskan.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































