Harianjogja.com, JOGJA— Pameran Galeri Nasional Indonesia bertajuk DARI SUDJOJONO KE MURNIASIH: Sepilihan Koleksi Galeri Nasional Indonesia resmi hadir di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, mulai 27 Juni hingga 30 Agustus 2026. Pameran berskala besar ini menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian bulan perayaan seni rupa di Yogyakarta sekaligus menghadirkan pembacaan baru terhadap sejarah seni rupa Indonesia.
Kolaborasi yang berada di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya (MCB) tersebut tidak hanya menampilkan koleksi negara, tetapi juga mengajak publik meninjau kembali narasi sejarah seni rupa Indonesia yang selama ini dinilai terlalu berpusat pada perspektif Barat (western-centric). Melalui pendekatan kuratorial baru, pameran ini berupaya membuka ruang dialog mengenai perkembangan seni rupa Nusantara dari masa ke masa.
Dorong Pembacaan Baru Sejarah Seni Rupa Indonesia
Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB) Kementerian Kebudayaan, Indira Esti Nurjadin menjelaskan pameran tersebut diselenggarakan bertepatan dengan berkumpulnya kolektor, seniman, kurator, hingga direktur museum dari berbagai negara di Yogyakarta. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk memperkenalkan perspektif baru mengenai akar sejarah seni rupa Indonesia.
Menurut Indi, selama ini masih berkembang anggapan bahwa Raden Saleh merupakan Bapak Seni Rupa Indonesia. Padahal, hasil berbagai riset menunjukkan tradisi seni rupa di Nusantara telah hadir jauh sebelum masa modern melalui temuan lukisan gua yang berusia puluhan ribu tahun.
"Selama ini kita punya salah persepsi bahwa Bapak Seni Rupa Indonesia itu adalah Raden Saleh. Melalui arahan Pak Menteri dan riset yang ada, kita ingin memperlihatkan bahwa kekuatan seni rupa kita sudah hadir sejak puluhan ribu tahun lalu. Kita adalah masyarakat yang civilized. Kalau kita lihat lukisan di Gua Muna yang usianya mencapai 68.700 tahun, leluhur kita bukan sekadar pelaut, tapi juga pelukis," ujar Indi saat membuka pameran di Museum Benteng Vredeburg, Jogja, Sabtu (4/7/2026).
Ia menambahkan, integrasi pengelolaan museum di bawah MCB mempermudah pengelolaan koleksi antarlembaga sehingga penyelenggaraan pameran keliling menjadi lebih mudah diwujudkan. Ke depan, Galeri Nasional Indonesia juga diharapkan tetap menjadi institusi seni rupa tertinggi di Indonesia yang memiliki nilai prestise bagi perjalanan karier para seniman.
Menelusuri Pergeseran Makna Kebebasan dalam Seni
Kurator pameran, Aminudin TH Siregar, menjelaskan bahwa sejarah seni rupa modern Indonesia selama ini kerap dipahami melalui narasi kebangkitan nasional, termasuk gagasan Jiwa Ketok yang diperkenalkan S. Sudjojono. Namun, pameran ini menghadirkan sudut pandang yang berbeda dengan menyoroti pengalaman hidup yang kerap luput dari sejarah arus utama.
"Pameran ini merekam perjuangan yang lebih mendalam, yaitu menunjukkan perilaku hidup yang sering diabaikan oleh sejarah arus utama," papar Aminudin.
Tim kurator memandang terdapat perubahan cara memaknai kebebasan dalam perjalanan seni rupa Indonesia. Pada era modernisme yang diwakili S. Sudjojono dan para seniman sezamannya, karya seni lebih banyak menampilkan tubuh kolektif bangsa sebagai simbol identitas nasional yang lepas dari kolonialisme. Sementara itu, pada era kontemporer yang diwakili I.G.A.K. Murniasih dan seniman lain, perhatian bergeser pada pengalaman personal, kerentanan, keintiman, serta politik tubuh sebagai bagian dari ekspresi artistik.
Selain itu, dewan kurator tengah mengembangkan konsep baru bertajuk relational historiography. Melalui pendekatan tersebut, Galeri Nasional Indonesia tidak lagi diposisikan sekadar sebagai ruang penyimpanan koleksi, melainkan sebagai arena epistemologi yang memungkinkan sejarah seni rupa terus dikaji, diperdebatkan, dan ditulis ulang secara berkelanjutan.
Jadwal dan Lokasi Pameran
Penanggung Jawab Museum Benteng Vredeburg, Vincentius Agus Sulistya, mengatakan masyarakat dapat menyaksikan karya dari 28 maestro seni rupa Indonesia dalam pameran tersebut. Sejumlah nama yang ditampilkan antara lain Affandi, Hendra Gunawan, Raden Saleh, hingga I.G.A.K. Murniasih.
Pameran berlangsung pada 27 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Ruang D Lantai 1 Museum Benteng Vredeburg, Jalan Margo Mulyo No. 6, Yogyakarta. Jam operasional dibuka setiap Selasa–Kamis pukul 08.00–20.00 WIB, Jumat–Minggu pukul 08.00–21.00 WIB, sedangkan setiap Senin museum tutup. "Ada 28 seniman yang karyanya ditampilkan dalam pameran ini," ujarnya.
Terdiri atas karya Affandi, Ahmad Sadali, Amrus Natalsya, Bagong Kussudiardja, Batara Lubis, Dullah, Edhi Soenarso, Fadjar Sidik, G. Sidharta, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, I.G.A.K. Murniasih, I Nyoman Gunarsa, Kartono Yudhokusumo, Paula Isman, Nashar, Popo Iskandar, Priyanto Sunarto, S. Sudjojono, Siti Roelijati.
Kemudian ada karya Sri Astari Rasjid, Srihadi Soedarsono, Soenarto Pr., Sudarso, Sukamto, Supini, Widayat, dan Yanuar Ernawati. Melalui Pameran Galeri Nasional Indonesia ini, publik diajak melihat kembali bagaimana gagasan tentang identitas bangsa, sejarah, dan imajinasi nasional terus dibentuk serta dinegosiasikan melalui karya seni rupa lintas generasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































