Kekeringan Sleman 2026 Diwaspadai, Pakem Tempel Paling Rawan

2 hours ago 2

Kekeringan Sleman 2026 Diwaspadai, Pakem Tempel Paling Rawan

Kekeringan - Ilustrasi StockCake

Harianjogja.com, SLEMAN— BPBD Sleman meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan Sleman 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal. Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi tiga kapanewon yang paling sering menerima distribusi air bersih dalam empat tahun terakhir sehingga masuk prioritas pemantauan.

Data distribusi air bersih sepanjang 2022–2025 menunjukkan ketiga wilayah tersebut berulang kali mengalami kesulitan memperoleh pasokan air saat musim kemarau. Riwayat tersebut menjadi dasar BPBD Sleman menyusun langkah antisipasi apabila krisis air bersih kembali terjadi pada musim kemarau tahun ini.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, mengatakan Kapanewon Pakem, Tempel, dan Minggir menjadi wilayah dengan volume distribusi air bersih terbesar selama periode 2022–2025. Pada 2023, Kapanewon Tempel menerima lebih dari 1 juta liter air bersih, disusul Minggir sebanyak 1.071.600 liter dan Pakem sekitar 953.000 liter yang didistribusikan ke sejumlah kalurahan.

Selain tiga kapanewon tersebut, BPBD Sleman juga pernah menyalurkan bantuan air bersih ke Kapanewon Gamping, Godean, Mlati, Ngaglik, Moyudan, Prambanan, Seyegan, Sleman, dan Turi sesuai kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

Secara kumulatif, BPBD Sleman telah mendistribusikan sebanyak 5.346.350 liter air bersih kepada 17.676 jiwa sepanjang periode 2022–2025.

Kebutuhan distribusi air bersih pada 2025 tercatat menurun cukup tajam dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Sepanjang tahun lalu, BPBD Sleman hanya menyalurkan 92.000 liter air bersih kepada 259 jiwa di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem.

Sebagai perbandingan, pada 2024 BPBD mendistribusikan 823.400 liter air bersih kepada 3.601 jiwa. Sementara itu, pada 2023 volume distribusi mencapai 4.286.100 liter untuk 13.109 jiwa, sekaligus menjadi jumlah tertinggi selama empat tahun terakhir. Adapun pada 2022, distribusi air bersih tercatat sebanyak 144.850 liter yang menjangkau 707 jiwa.

Uun mengatakan BPBD Sleman tetap mewaspadai potensi kekeringan Sleman 2026 meskipun distribusi air bersih pada tahun lalu menurun. Menurutnya, pengalaman penanganan kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya menjadi acuan untuk memantau wilayah yang berulang kali mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

BPBD Sleman juga terus melakukan pemantauan kondisi di lapangan. Bantuan air bersih akan segera disalurkan apabila terdapat laporan maupun permohonan dari pemerintah kalurahan atau kapanewon yang terdampak krisis air bersih.

"Untuk APBD Perubahan, kami mengalokasikan anggaran Rp25 juta. Kalau dikonversi ke tangki air sekitar 50 tangki," kata Uun saat dihubungi, Sabtu (4/7/2026).

Ia menjelaskan anggaran penyediaan air bersih untuk mitigasi keluarga terdampak kekeringan belum tersedia dalam APBD murni sehingga pengalokasiannya dilakukan melalui APBD Perubahan.

Prediksi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering pada 2026 membuat BPBD Sleman memperkuat kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang selama ini memiliki riwayat menerima distribusi air bersih dalam jumlah besar. Hingga awal Juli 2026 memang belum ada permohonan bantuan air bersih seperti pada tahun-tahun sebelumnya, namun BPBD memastikan seluruh mekanisme penyaluran telah disiapkan apabila kekeringan Sleman 2026 mulai memengaruhi akses masyarakat terhadap kebutuhan air bersih.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|