REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada masa dalam hidup ketika manusia merasa lelah. Bukan hanya tubuh yang kehilangan tenaga, tetapi hati yang pelan-pelan rapuh. Ia tidak selalu tampak dari luar, tidak selalu terucap, namun retaknya terasa halus, diam, dan perlahan menggerus ketenangan.
Sering kali, kelelahan itu lahir dari terlalu banyak sandaran. Terlalu banyak berharap pada yang fana pada manusia yang bisa berubah, pada keadaan yang mudah bergeser, pada rencana yang tak selalu berjalan. Hati menjadi penuh, namun sekaligus kosong, karena menggantungkan diri pada sesuatu yang tidak benar-benar kokoh.
Di titik itulah, tauhid tidak lagi sekadar konsep yang dipahami akal. Ia berubah menjadi kebutuhan jiwa. Ia menjadi jalan pulang tempat hati kembali menemukan satu sandaran yang tidak pernah goyah.
Tauhid yang Membersihkan Segala Sandaran
QS. Al-Ikhlas (112:1–4)
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Qul huwaAllāhu aḥad. Allāhuṣ-ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakun lahu kufuwan aḥad.
Arti: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.”
Dalam Mafatih al-Ghayb, Ar-Razi menjelaskan bahwa kata “Aḥad” bukan sekadar “satu”, tapi “satu yang tak terbagi, tak tersusun, tak bergantung pada apa pun”.
Ketika ayat menyebut “Ash-Shamad”, Ar-Razi menafsirkannya sebagai Dzat yang menjadi tujuan segala kebutuhan, sementara Dia sendiri tidak membutuhkan apa pun.
Semua yang selama ini kita jadikan sandaran: manusia, jabatan, bahkan diri sendiri, ternyata rapuh.
Ayat ini seperti bisikan lembut: lepaskan semua itu… kembalilah hanya kepada Yang Tidak Pernah Runtuh.
Tauhid yang Menenangkan Kegelisahan
QS. Al-Baqarah (2:255) atau Ayat Kursi
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ...
Allāhu lā ilāha illā huwa, al-ḥayyul-qayyūm…
“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)...”
Menurut Ar-Razi, dua nama ini: Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm, adalah inti dari seluruh sifat kesempurnaan.
Al-Ḥayy: hidup tanpa awal dan tanpa akhir. Al-Qayyūm: mengurus segalanya tanpa pernah lalai. Artinya, tidak ada satu pun urusanmu yang luput dari perhatian-Nya.
Bahkan saat kamu merasa semuanya di luar kendali… sebenarnya ada Yang sedang menata dengan sangat rapi.
Tauhid di sini bukan hanya keyakinan. Ia adalah ketenangan: bahwa hidup ini tidak pernah berjalan tanpa penjagaan.

4 hours ago
1

















































