Bambanglipuro Bentuk Posko Anti Klitih Usai Pelajar Tewas

6 hours ago 5

Bambanglipuro Bentuk Posko Anti Klitih Usai Pelajar Tewas

Kekerasan jalanan atau klitih. - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, BANTUL—Maraknya tindak kriminalitas di wilayah Kapanewon Bambanglipuro mendorong pembentukan posko anti klitih di setiap kalurahan. Langkah tersebut mencuat setelah kasus pengeroyokan yang menewaskan seorang pelajar SMAN 1 Bambanglipuro menjadi perhatian publik.

Pembentukan posko keamanan itu diharapkan mampu menekan aksi kejahatan jalanan yang belakangan melibatkan pelajar tingkat SMP dan SMA, baik sebagai korban maupun pelaku.

Wakil Ketua Komisi A DPRD Bantul, Ani Widayani, mengaku prihatin terhadap meningkatnya kasus kriminalitas di wilayah Bambanglipuro.

“Kasus kejahatan jalanan yang menyebabkan seorang siswa SMAN 1 Bambanglipuro meninggal dunia akibat dikeroyok tentunya sangat memprihatinkan karena korbannya sekolah di wilayah Bambanglipuro dan pelaku pengeroyokan salah satunya warga Bambanglipuro,” katanya, Selasa (12/5/2026).

Menurut Ani, situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di Bambanglipuro saat ini memerlukan perhatian serius. Selain aksi klitih, wilayah tersebut juga diwarnai kasus pencurian kendaraan bermotor, pencurian dengan kekerasan, hingga penyalahgunaan obat-obatan berbahaya.

Karena itu, tiga kalurahan di Bambanglipuro diminta bersinergi membentuk tim anti kriminalitas tingkat kapanewon serta mendirikan posko pengamanan di sejumlah titik rawan.

Posko tersebut nantinya akan melibatkan relawan warga yang melakukan patroli malam secara rutin pada jam-jam rawan kejahatan.

“Posko-posko anti klitih ini akan melakukan patroli pada jam malam atau waktu-waktu yang rawan terjadinya tindak kriminalitas dengan harapan bisa menekan tindak kejahatan,” ujarnya.

Ani mengakui pembentukan posko membutuhkan dukungan anggaran untuk operasional patroli dan kebutuhan relawan. Namun, di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, ia optimistis program tetap bisa berjalan melalui budaya gotong royong masyarakat.

Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menilai solidaritas sosial warga Bambanglipuro cukup kuat untuk mendukung kegiatan keamanan lingkungan secara mandiri.

Sementara itu, Kapolsek Bambanglipuro, AKP I Nengah Jeffry Prana Widnyana, mengungkapkan sepanjang Januari hingga April 2026 terdapat 40 laporan polisi di wilayah hukumnya.

Dari jumlah tersebut, 11 perkara diselesaikan melalui jalur kekeluargaan, sedangkan sisanya masih dalam proses penyelidikan.

“Sisanya masih dalam penyelidikan dari kasus pencurian, penipuan, penggelapan, penganiayaan dan pengeroyokan,” katanya.

Jeffry menyebut kasus paling menonjol adalah pengeroyokan terhadap pelajar SMAN 1 Bambanglipuro hingga meninggal dunia. Meski lokasi kejadian berada di luar Bambanglipuro, korban diketahui sempat berada di wilayah tersebut dan salah satu pelaku merupakan warga Bambanglipuro.

Ia menegaskan penanganan kriminalitas pelajar tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

Menurutnya, kepolisian, sekolah, orang tua, tokoh masyarakat, hingga tokoh agama harus terlibat aktif dalam pengawasan dan pencegahan.

“Atas berbagai tindak kriminalitas yang melibatkan pelajar tersebut kami mengajak kolaborasi dengan semua instansi, elemen masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama untuk menekan angka kriminalitas di Bambanglipuro. Bukan sekadar saling tuding antara pihak sekolah, orang tua maupun kepolisian,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|