REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan di kawasan Eropa Timur kembali meningkat setelah Rusia melontarkan peringatan keras kepada negara-negara Baltik terkait dugaan keterlibatan mereka dalam jalur operasi drone Ukraina. Di tengah situasi tersebut, sebuah kajian keamanan regional memunculkan skenario yang tak kalah mengkhawatirkan: kemungkinan Lithuania dapat dilumpuhkan hanya dalam waktu 90 hari melalui serangan jarak jauh.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyatakan Moskow telah mengeluarkan peringatan khusus kepada Latvia, Lithuania, dan Estonia. Peringatan itu berkaitan dengan laporan mengenai kemungkinan dibukanya wilayah udara negara-negara tersebut bagi drone Ukraina untuk menyerang Rusia.
“Rusia mengeluarkan peringatan terkait keputusan membuka wilayah udara sebagai jalur bagi kendaraan udara nirawak Ukraina,” ujar Zakharova, seperti dikutip RIA Novosti, beberapa waktu lalu.
Zakharova menegaskan, jika langkah itu benar dilakukan dan terus berlanjut, Rusia akan mengambil tindakan balasan yang dianggap perlu untuk menjaga kepentingan keamanannya.
Namun demikian, laporan mengenai pembukaan wilayah udara Baltik tersebut masih berasal dari kanal Telegram Mash pada 26 Maret dan belum mendapatkan konfirmasi resmi yang luas dari pemerintah terkait. Hal ini membuat informasi tersebut berada pada level klaim awal yang belum terverifikasi secara independen.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada kajian yang dirilis Baltic Defense Initiative, sebuah lembaga kajian berbasis di Vilnius. Studi tersebut menyajikan skenario hipotetis mengenai bagaimana Rusia dapat menekan Lithuania tanpa harus mengirimkan pasukan darat melintasi perbatasan.
Dalam simulasi tersebut, Rusia digambarkan memanfaatkan kombinasi rudal presisi dan gelombang besar drone untuk melumpuhkan infrastruktur vital. Targetnya mencakup pembangkit listrik, jembatan, rumah sakit, hingga fasilitas pengolahan air—elemen-elemen yang menopang kehidupan sipil dan stabilitas negara.
Kajian itu bahkan menggambarkan penggunaan lebih dari 170 ribu drone dalam kurun sekitar 60 hari sebagai bagian dari operasi berkelanjutan. Serangan semacam ini, dalam skenario tersebut, dinilai dapat secara sistematis melemahkan kapasitas negara hingga titik kritis.
Pendiri Baltic Defense Initiative, Thiebaut Devergranne, menekankan bahwa simulasi ini disusun berdasarkan data kemampuan sistem senjata yang telah ada, tren produksi militer, serta dinamika geopolitik global.
sumber : Antara

9 hours ago
5














































