
Dua pasangan remaja berpacaran dan berpelukan saat terekam video di Taman Edupark Gemolong, Sragen, belum lama ini. /Espos.
Harianjogja.com, SRAGEN—Pengawasan Taman Edupark Gemolong, Sragen, bakal diperketat setelah video sepasang remaja bermesraan di ruang publik tersebut viral di media sosial. Pemerintah Kecamatan Gemolong mengakui kecolongan karena kejadian serupa disebut sudah terjadi untuk kedua kalinya.
Video tersebut diunggah warganet melalui Facebook dan Instagram sejak Minggu (13/9/2026). Kondisi itu sekaligus menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen karena Taman Edupark Gemolong merupakan salah satu ruang publik yang dikelola pemerintah.
Camat Gemolong Nugroho Dwi Wibowo mengatakan salah satu kendala pengawasan berkaitan dengan kewenangan pengelolaan aset. Taman tersebut berada di bawah Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen.
"Kewenangan taman ada di Disperkimtaru. Petugas jaga dari Disperkimtaru biasanya bersiaga di area depan pada pagi hari, sementara area belakang kurang tersentuh pengawasan karena tidak ada petugas di sana," ujar Bowo, sapaannya, Selasa (15/9/2026).
Menurut Bowo, luas taman dan keberadaan pepohonan yang rimbun turut menyulitkan pengawasan. Fasilitas keamanan di kawasan tersebut juga masih minim.
Bowo mengatakan dirinya tidak menemukan kamera pengawas atau closed-circuit television (CCTV) di area Taman Edupark Gemolong. Selain itu, terdapat pintu samping yang menjadi akses masuk tanpa pengawasan sehingga dinilai dapat menjadi celah bagi remaja melakukan tindakan di luar batas kewajaran.
"Lokasi yang digunakan bermesraan remaja terlihat dari jalan dan warung. Terus terang kami merasa kecolongan kalau ada kejadian seperti itu. Kejadiannya sudah dua kali ini," ungkapnya.
Pengawasan Taman Edupark Gemolong Diperkuat
Pemerintah Kecamatan Gemolong selanjutnya akan berkolaborasi dengan Disperkimtaru untuk memperkuat pengawasan. Potensi masyarakat lokal, termasuk Paguyuban Masyarakat Gemolong Asri dan Kelompok Sadar Wisata (Pokmas), juga akan dilibatkan.
Selama ini pengawasan dilakukan melalui penambahan personel, penataan area parkir, serta pemasangan spanduk imbauan. Pengunjung diingatkan untuk menghindari tindakan tidak senonoh selama berada di kawasan taman.
Muspika Gemolong juga rutin memberikan sosialisasi kepada kalangan remaja melalui kunjungan ke sekolah. Materi yang diberikan antara lain kedisiplinan, tertib berlalu lintas, dan pencegahan perundungan.
Meski demikian, Bowo mengakui edukasi khusus mengenai perilaku berpacaran di tempat umum belum menjadi bagian dari materi sosialisasi tersebut. Karena itu, dia berharap kesadaran remaja dan keterlibatan masyarakat sekitar dalam menjaga ketertiban taman dapat ditingkatkan.
Pemkab Tambah Penjagaan dan Penerangan
Kepala Disperkimtaru Sragen Aris Wahyudi membenarkan adanya penyalahgunaan Taman Edupark Gemolong untuk aktivitas yang dinilai tidak semestinya. Menurut dia, kejadian yang viral di media sosial tersebut menjadi bahan introspeksi untuk meningkatkan pengawasan terhadap taman-taman yang dikelola Disperkimtaru.
"Kami merasa prihatin dan heran dengan perilaku remaja sekarang. Taman Edupark itu merupakan ruang terbuka, situasinya tidak gelap, dan banyak orang. Tetapi kok bisa-bisanya dua remaja nekat bermesraan. Apa pun itu, kami tetap meningkatkan tindakan preventif dengan mengoptimalkan penjagaan di taman," jelas Aris.
Penjaga taman nantinya diminta menegur atau mengingatkan pasangan yang kedapatan berduaan apabila ditemukan tindakan yang dinilai tidak pantas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya preventif untuk meminimalisasi kejadian serupa.
Disperkimtaru juga berencana membatasi kunjungan ke taman, terutama pada malam hari. Setelah pukul 22.00 WIB, area Taman Edupark Gemolong akan disterilkan dari pengunjung.
"Kami juga menambah lampu-lampu di area taman yang masih gelap, biar lebih terang," ujar dia.
Aris menambahkan informasi dari pedagang dan warga sekitar menyebut kedua remaja yang berada dalam video tersebut memang kerap berkunjung ke taman. Warga maupun pedagang tidak merasa aneh karena sudah sering melihat keduanya berada di lokasi.
Ke depan, pengawasan juga akan diperkuat melalui pemasangan tulisan larangan dan peringatan. Langkah tersebut ditujukan untuk mengingatkan pengunjung agar tidak melakukan perbuatan asusila di ruang publik.
"Kami akan meningkatkan pengawasan dengan memasang tulisan larangan dan peringatan supaya tidak berbuat asusila," jelas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































