Drone kamikaze Shahed 136 dipamerkan saat pawai tahunan menandai Revolusi Islam 1979 di Lapangan Azadi di Teheran, Iran, Rabu (11/2/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, DOHA — Memasuki hari kelima, perang antara Iran melawan koalisi zionis Israel-Amerika Serikat belum ada tanda-tanda akan berakhir. Konfrontasi yang sudah menghilangkan lebih dari seribu nyawa ini pun dinilai bertransformasi menjadi perang atrisi (penghancuran stok).
NDTV melaporkan, efektivitas pertahanan udara koalisi kini dibayangi oleh krisis persediaan rudal pencegat akibat gelombang serangan pesawat nirawak (drone) murah yang diluncurkan Teheran secara massif.
Laporan internal yang dilihat oleh Bloomberg menunjukkan adanya ketimpangan ekonomis perang yang mencolok. Sistem pertahanan udara Patriot buatan AS memang mencatat tingkat keberhasilan intersepsi di atas 90 persen.
Meski demikian, penggunaan rudal seharga 4 juta dolar AS untuk menjatuhkan drone Shahed-136 yang hanya berharga 20.000 dolar AS mulai menguras sumber daya pertahanan negara-negara Teluk.
Analisis internal menunjukkan bahwa persediaan rudal pencegat Patriot milik Qatar diperkirakan hanya akan bertahan selama empat hari jika intensitas serangan saat ini berlanjut. Meskipun Kantor Media Internasional Qatar membantah adanya penipisan stok, Doha secara tertutup terus mendesak agar konflik segera diakhiri.
"Strategi atrisi ini masuk akal secara operasional dari perspektif Iran," ujar Kelly Grieco, pakar dari Stimson Center. "Mereka menghitung bahwa para pembela akan menghabiskan rudal pencegat mereka, yang kemudian akan memicu tekanan politik bagi AS dan Israel untuk menghentikan operasi."

2 hours ago
2

















































