Potret proses peluncuran rudal High Mobility Artillery Rocket Systems (HIMARS) untuk menyerang Iran yang dilansir CENTCOM AS. Peluncuran itu dari wilayah yang diduga di salah satu negara Teluk.
REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK— Kekhawatiran semakin meningkat di kalangan Amerika bahwa perang saat ini melawan Iran menguras persediaan senjata AS.
Kekhawatiran tersebut hingga pada tingkat yang dapat memengaruhi kemampuan Washington untuk melaksanakan rencana pertahanannya terhadap Taiwan jika terjadi konflik dengan Tiongkok, menurut laporan di The Wall Street Journal.
Surat kabar tersebut menyebutkan Amerika Serikat telah menghabiskan jumlah besar amunisi canggih sejak dimulainya perang melawan Iran pada 28 Februari.
Ini dengan perkiraan penggunaan lebih dari seribu rudal Tomahawk jarak jauh, ditambah antara 1.500 hingga 2.000 rudal pertahanan udara canggih, termasuk sistem THAAD, Patriot, dan Standard.
Para pejabat memperingatkan pemulihan kembali persediaan tersebut mungkin membutuhkan waktu hingga enam tahun, yang memicu kekhawatiran semakin meningkat di dalam pemerintahan AS terkait kesiapan dalam jangka pendek.
Laporan Wall Street Journal menunjukkan bahwa pengurangan ini memicu perdebatan internal mengenai perlunya menyesuaikan rencana militer, terutama yang berkaitan dengan pertahanan Taiwan.
Meskipun Pentagon menyusun berbagai skenario untuk menghadapi tantangan global, beberapa pejabat mengakui bahwa konflik yang akan datang dengan Tiongkok dapat mengungkap kekosongan amunisi, yang dapat meningkatkan risiko yang dihadapi pasukan AS.

2 hours ago
2
















































