Siswi lombar cerdas cermat empat pilar MPR RI di Kalbar protes terkait putusan dewan juri.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak dan keluarga Astrid Wen menanggapi sistem penilaian lomba cerdas cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Video lomba itu viral setelah seorang siswi protes atas jawabannya yang benar namun justru mendapat minus 5.
Siswi itu protes berulang kali, tapi tetap tidak "digubris" oleh juri. Menurut Astrid, peristiwa ini bukan sekadar persoalan lomba cerdas cermat melainkan cerminan bagaimana cara otoritas merespons kritik.
Dia juga menyoroti keberanian anak muda khususnya generasi Z dalam menyampaikan pendapat. Astrid mengatakan berbagai penelitian menunjukkan Gen Z tumbuh dengan akses informasi yang lebih luas, budaya diskusi lebih terbuka, serta kesadaran lebih tinggi terhadap hak mereka untuk didengar. Karenanya, tak aneh jika generasi tersebut lebih berani speak up.
"Mereka cenderung lebih ekspresif, lebih berani untuk mempertanyakan sesuatu yang dianggap tidak adil. Namun penting dipahami, keberanian mereka sering kali bukan untuk mempermalukan otoritas, justru memastikan objektivitas dan konsistensi," kata Astrid saat dihubungi Republika, Selasa (12/5/2026).
Sementara itu, pada generasi sebelumnya seperti generasi baby boomers, generasi X, dan sebagian milenial, banyak yang dibesarkan dalam budaya hierarkis. Menurut Astrid, generasi tersebut sedari kecil sering kali diajarkan bahwa membantah orang dewasa dianggap tidak sopan.

3 hours ago
2

















































