REPUBLIKA.CO.ID,
JAKARTA -- Dompet Dhuafa mengajak umat Islam untuk kembali meresapi esensi pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam pada momen Idul Adha tahun ini. Menurutnya, kurban sejati bukan sekadar ritual menyembelih hewan, melainkan sebuah ibadah yang harus menghadirkan pergulatan batin dan "getaran jiwa" sebagaimana ujian berat yang dihadapi Nabi Ibrahim saat diminta menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail.
Ketua Kurban 1447 H Dompet Dhuafa, Ali Bastoni mengajak kepada seluruh umat Islam yang ada di mana untuk bisa terus mengambil spiritnya Nabi Ibrahim di momen Idul Adha ini.
"Kita tahu ya, Nabi Ibrahim itu kurban tidak sekadar memberikan apa yang dia cinta, tapi ada pergulatan batin yang dirasakan oleh Nabi Ibrahim," kata Ali kepada Republika, Selasa (12/5/2026)
Ia menjelaskan, Nabi Ibrahim diminta menyembelih anaknya. Sebagaimana diketahui, anaknya satu-satunya yang telah lama dinanti-nanti kehadirannya. Ketika anak tersebut yakni Nabi Ismail lahir, tiba-tiba diminta oleh Allah untuk disembelih untuk dikurbankan. Tentu menerima perintah kurban seperti ini dari Allah SWT, muncul pergulatan batin pada diri Nabi Ibrahim.
Ali mengungkapkan, jadi nilainya adalah kurban itu harus ada semacam getaran di jiwa sebagaimana Nabi Ibrahim saat diuji untuk menyembelih Nabi Ismail.
"Jadi kalau saldo seseorang di rekening ada Rp 1 Miliar dan hanya kurban kambing, tentu ini belum ada getaran atau pergulatan batin," ujar Ali.
Ali menambahkan, sebaliknya, kalau saldo di rekening hanya ada Rp 5 juta, untuk kurban kambing Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Tentu muncul getaran dan pergulatan batin, apakah sisa saldo tersebut cukup untuk kebutuhan sehari-hari nanti setelah berkurban.
"Jadi kurban itu betul-betul tingkat tinggi, tingkat paling utama adalah bagaimana orang itu berkurban itu sampai ada getaran jiwa, sampai ada risau, ada pergulatan batin yang kuat, nah itu baru kurban paling tinggi," ujar Ali.

3 hours ago
2

















































