Siaga Bencana Jogja Diperpanjang hingga 31 Maret, 98 Kejadian Tercatat

3 hours ago 2

Siaga Bencana Jogja Diperpanjang hingga 31 Maret, 98 Kejadian Tercatat Ilustrasi longsor. - Pixabay/Saiful Mulia

Harianjogja.com, JOGJA—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja resmi memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 31 Maret 2026. Kebijakan ini dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) No.135/2026 tentang Perpanjangan Penetapan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi yang ditetapkan pada 27 Februari 2026.

Perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Kota Jogja tersebut dilakukan karena potensi cuaca ekstrem dinilai masih cukup tinggi dalam beberapa pekan ke depan. Kondisi ini membuat pemerintah daerah terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan bencana.

Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Jogja, Darmanto mengatakan kebijakan tersebut diambil karena masih tingginya potensi bencana akibat cuaca ekstrem di wilayah Kota Jogja.

BPBD mencatat sepanjang Januari hingga awal Maret 2026 terjadi sebanyak 98 kejadian bencana di Kota Jogja. Sebagian besar insiden tersebut dipicu oleh dampak cuaca ekstrem, mulai dari pohon tumbang, dahan patah, hingga kerusakan atap rumah akibat hujan yang disertai angin kencang.

“Ada dampak dari siklon tropis,” ujar Darmanto, Selasa (10/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca saat ini masih berada dalam periode musim hujan. Pada fase tersebut, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih cukup tinggi dan dapat disertai angin kencang yang memicu bencana hidrometeorologi di wilayah perkotaan.

Beberapa potensi bencana yang perlu diwaspadai masyarakat antara lain pohon tumbang akibat terpaan angin, genangan air atau banjir lokal, longsor pada talud maupun tebing sungai, serta kerusakan atap rumah dan bangunan ringan.

Darmanto menjelaskan Kota Jogja yang merupakan wilayah perkotaan dengan beberapa aliran sungai besar memiliki potensi kejadian bencana tertentu saat cuaca ekstrem. Sungai yang melintasi kota tersebut di antaranya Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong.

“Potensi yang paling sering muncul adalah pohon tumbang, genangan, serta gangguan pada infrastruktur perkotaan,” katanya.

Berdasarkan pemetaan risiko BPBD Kota Jogja, sejumlah wilayah yang berada di bantaran sungai perlu meningkatkan kewaspadaan. Kawasan di sepanjang Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong memiliki potensi terdampak luapan air atau longsor talud apabila terjadi hujan lebat di wilayah hulu.

Selain kawasan bantaran sungai, area dengan kepadatan pohon besar di sepanjang jalan utama juga berpotensi mengalami pohon tumbang saat terjadi angin kencang. Sementara wilayah yang memiliki sistem drainase terbatas atau berada di daerah cekungan berisiko mengalami genangan sementara ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Meski demikian, BPBD menilai kondisi secara umum di Kota Jogja masih relatif terkendali. Hal ini didukung oleh sistem drainase perkotaan yang cukup baik, pemantauan kondisi sungai secara berkala, serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Reni Kraningtyas, mengatakan kondisi cuaca ekstrem di Indonesia saat ini dipengaruhi oleh angin Monsun Asia yang masih aktif.

Selain pengaruh angin Monsun Asia, dinamika atmosfer di wilayah Indonesia juga dipengaruhi aktivitas siklonik di sejumlah perairan sekitar. Berdasarkan pemantauan BMKG, saat ini terdeteksi tiga bibit siklon tropis yang berpotensi memengaruhi kondisi cuaca.

Ketiga bibit siklon tersebut masing-masing adalah bibit siklon 90S dan 93S yang terpantau di perairan Samudera Hindia, serta bibit siklon 92P yang berada di wilayah perairan Teluk Carpentaria.

“Masyarakat harus tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan sedang hingga lebat yang disertai angin kencang serta petir,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|