REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat mengerahkan pompa dan tangki air untuk menangani dampak kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar). Langkah ini diambil menyusul penetapan status darurat bencana karhutla oleh Pemerintah Kabupaten Kubu Raya.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan bahwa pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla dan kekeringan selama musim kemarau, khususnya di Kalimantan Barat. Penguatan koordinasi lintas sektor serta penyediaan infrastruktur pendukung menjadi fokus utama di lapangan.
“Kementerian PU tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung penanggulangan bencana, menjaga ketersediaan air, melindungi lingkungan, serta menjamin keselamatan masyarakat,” kata Dody di Jakarta, Jumat.
Distribusi Bantuan dan Identifikasi Lapangan
Melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan I dan Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Barat, Kementerian PU mengerahkan berbagai sarana dan prasarana. Bantuan ini untuk memastikan kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi sekaligus mendukung penanganan potensi kebakaran.
Bantuan tersebut disalurkan ke sejumlah titik yang terdampak kekurangan air, termasuk di Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Sanggau. Selain itu, Kementerian PU juga menerjunkan personel ke wilayah Ketapang dan Kubu Raya untuk mengidentifikasi kebutuhan penanganan dari sisi sumber daya air maupun infrastruktur.
Kepala BWS Kalimantan I M. Tahid mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemerintah Daerah setempat sejak kondisi kekeringan mulai menunjukkan dampak serius.
“Upaya kita di lapangan ikut membantu dalam hal pompa-pompa, kemudian beberapa BBM, juga dengan turun ke lapangan langsung untuk melihat kondisi seperti di Ketapang dan Kubu Raya kita terjunkan tim juga di sana dalam rangka untuk melakukan identifikasi, menemukan apa yang bisa kita bantu dari SDA maupun Cipta Karya,” ujarnya.
Tantangan Lahan Gambut dan Langkah Pencegahan
Menurut Tahid, musim kemarau panjang akibat El Nino memicu peningkatan risiko kebakaran di Kalimantan. Wilayah pesisir Kalimantan Barat memiliki banyak lahan gambut yang relatif sulit ditangani ketika terjadi kebakaran. Sementara di wilayah hulu, karakter tanahnya lebih banyak berupa tanah mineral.
Karena itu, BWS Kalimantan I tidak hanya berperan saat kondisi darurat terjadi, tetapi juga melakukan langkah pencegahan. Pihaknya mengidentifikasi titik-titik sumber air yang dapat dimanfaatkan apabila kebakaran terjadi.
Di sisi lain, Kepala BPBPK Kalbar Mohd. Yoza Habibie mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah daerah yang mengalami kekeringan. Daerah-daerah tersebut antara lain Kabupaten Kubu Raya, Kayong Utara, Pontianak, Singkawang, dan Sanggau.
“Kami lebih ke penanganan kekeringan ada di beberapa kabupaten. Unit kita sudah bergerak ke sana dan ada yang sudah kembali. Kita men-supply air bersih dari PDAM-PDAM terdekat, lalu dibawa ke kabupaten/kota,” katanya.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

3 hours ago
5















































