Presiden Suriah Nyatakan Siap Bekerja Sama dengan Israel

1 hour ago 3

Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa berjalan menyambut Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas (tidak dalam gambar) di Damaskus, Suriah, 18 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa mengungkapkan bahwa Damaskus sedang berupaya secara aktif untuk mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel. Hal itu dilakukan dengan melibatkan sejumlah negara. 

Dalam wawancara eksklusif untuk program Al Muqabala di Aljazirah, al-Sharaa menyatakan harapannya agar kesepakatan dengan Israel tersebut dapat menjadi pintu pembuka menuju perdamaian yang komprehensif.

Pernyataan ini muncul menyusul serangkaian serangan dan penerobosan wilayah oleh Israel di Suriah selatan sejak al-Sharaa berkuasa pada Desember 2024, setelah runtuhnya pemerintahan Bashar al-Assad. 

Israel terus melakukan pelanggaran yang hampir terjadi setiap hari di luar zona perbatasan di Provinsi Quneitra maupun di bagian selatan Provinsi Deraa, hal yang menimbulkan kekhawatiran besar di Damaskus.

"Jika kesepakatan keamanan berhasil dan Israel berkomitmen pada aspek keamanan—begitu pula Suriah, termasuk mematuhi semua ketentuan kesepakatan yang mungkin dicapai nantinya—maka hal ini akan membuka jalan bagi tahap kedua perundingan mengenai perdamaian komprehensif, tanpa harus mengorbankan hak Suriah atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki," kata Presiden Suriah.

Saat ini, Israel masih menduduki wilayah yang mereka sebut sebagai zona keamanan sementara di luar Garis Bravo—di sisi Suriah dalam zona penyangga—dan belum ada tanda-tanda mereka akan segera menarik diri. Namun, pemerintah Suriah menyatakan kesediaannya untuk melakukan perundingan lebih lanjut yang berpotensi mewujudkan perdamaian abadi antara Suriah dan Israel.

Al-Sharaa juga menegaskan bahwa Suriah tidak berniat melancarkan intervensi militer ke negara tetangga, Lebanon, meskipun beredar rumor berulang mengenai hal tersebut. Sebaliknya, pemerintahannya saat ini sedang membahas cara agar otoritas Lebanon dapat mengatasi krisis yang sedang dihadapi negara itu dan membawanya menuju situasi yang aman. 

Wilayah Lebanon selatan saat ini diduduki oleh Israel di tengah pertempuran yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara Hizbullah dan pasukan Israel. Negara Lebanon berupaya merebut kembali wilayah-wilayah pendudukan tersebut dan memegang kendali penuh (monopoli) atas seluruh persenjataan di dalam negeri. 

Lebih lanjut, ia menyatakan dukungan tegas Damaskus terhadap pembatasan kepemilikan senjata serta penempatan wewenang pengambilan keputusan terkait perang dan damai secara eksklusif di tangan negara Lebanon.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|