
Oleh : KH Imam Jazuli Lc., MA
REPUBLIKA.CO.ID, Harus diakui, Pesantren Salaf adalah penjaga turots yang paling setia. Di sana, ilmu bukan sekadar kognisi, melainkan transmisi spiritual melalui sanad yang menyambung hingga Baginda Nabi. Kelebihan lainya mungkin tak tertandingi dalam menjaga etika (adab).
Santri tidak hanya membaca kitab, mereka menyelami makna sekaligus mempraktikan dengan ketawaduan. Di tengah dunia yang kehilangan kompas moral, pesantren adalah kompas itu sendiri—menjaga teks-teks klasik tetap hidup dalam denyut nadi santri.
Namun, dibalik kelebihannya itu, mari kita jujur pada diri sendiri. Pilihan dalam bermazhab terkadang membuat kita terperangkap dalam sangkar emas. Secara mayoritas, kurikulum mereka adalah Mazhab Syafi’i secara rigid, hingga seringkali melihat mazhab lain dengan tatapan inferior, seolah kebenaran hanya milik satu pintu.
Jika ada perbedaan selayang pandang, tak jarang dengan mudah menghakimi dengan vonis "salah" atau "kurang sempurna". Feodalisme pun kerap kali melampaui batas etika. Takzim kepada Kiai adalah keharusan, namun ketika ia membeku menjadi dogma yang menutup pintu diskusi, ia membunuh nalar kritis. Santri menjadi copy-paste pemikiran pengasuhnya tanpa ruang untuk bertanya "mengapa?".
Pendidikan kita menjadi monologis. Kiai berbicara, santri hanya mengangguk. Padahal, dunia hari ini menuntut Washatiyah (moderat) yang lahir dari perdebatan sehat, bukan dari ketaatan buta.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

5 hours ago
3














































