Seorang tentara berdiri di lokasi serangan udara Israel yang menargetkan sebuah apartemen di pinggiran selatan Beirut, Lebanon, 07 Juni 2026. Setidaknya dua orang tewas dan belasan lainnya terluka dalam serangan Israel di pinggiran selatan Beirut, menurut kantor berita resmi Lebanon (NNA).
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Rudal-rudal Iran yang menghantam Israel pada Ahad (6/6/2026) malam datang secara mendadak tanpa peringatan sebelumnya, membuka babak baru dalam eskalasi yang terus meningkat antara kedua pihak.
Situasi ini memperlihatkan keterkaitan berbagai front konflik, mulai dari Lebanon hingga wilayah Israel sendiri, serta mempertemukan pesan-pesan politik dengan konfrontasi militer secara langsung.
Serangan Iran tersebut tidak terjadi secara terpisah dari rangkaian bentrokan yang telah berlangsung sebelumnya.
Sebaliknya, serangan ini muncul di tengah indikasi yang semakin jelas bahwa aturan keterlibatan antara kedua pihak telah bergeser ke tingkat yang lebih langsung dan terbuka, dengan risiko meluasnya konflik militer ke skala yang lebih besar.
Menurut media Israel, diikuti Aljazeera, Senin (7/6/2026), sistem pertahanan udara negara itu telah ditempatkan dalam status siaga tinggi untuk menghadapi gelombang ketiga rudal yang diluncurkan dari Iran.
Sementara itu, Channel 14 Israel melaporkan adanya serpihan hasil pencegatan rudal yang jatuh di wilayah utara Israel.
Di sisi lain, sejumlah pejabat Israel, sebagaimana dikutip berbagai media termasuk Axios, menegaskan bahwa Tel Aviv tengah bersiap memberikan respons terhadap serangan Iran tersebut.
Hal ini mengindikasikan kemungkinan dimulainya siklus baru eskalasi militer yang saling berbalas dan sulit diprediksi dampaknya.
Berdasarkan berbagai informasi yang beredar, tujuan utama serangan Iran tampaknya berkaitan dengan upaya menciptakan keseimbangan daya tangkal (deterrence) baru terhadap Israel.

1 hour ago
2
















































