REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang yang berpenghasilan besar tetapi hidupnya tetap diliputi kegelisahan. Gaji naik, usaha berkembang, aset bertambah, namun kebutuhan seolah tak pernah cukup. Uang datang dan pergi begitu cepat tanpa meninggalkan rasa tenang.
Fenomena ini ternyata telah dibahas berabad-abad lalu oleh Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya, Ihya' Ulumiddin. Dalam pembahasannya mengenai adab bekerja, mencari penghidupan, serta rezeki halal dan haram, Al-Ghazali menjelaskan bahwa keberkahan rezeki tidak semata-mata ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh cara memperolehnya dan bagaimana ia digunakan.
Bagi Al-Ghazali, rezeki yang sedikit tetapi halal dan membawa ketenangan jauh lebih berharga dibandingkan harta melimpah yang diperoleh dengan cara yang meragukan. Sebab, tujuan bekerja dalam Islam bukan sekadar memperkaya diri, melainkan menjadi sarana untuk menjaga kehidupan, menunaikan kewajiban, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Keberkahan Datang dari Iman dan Takwa
Pandangan Al-Ghazali tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā 'alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS Al-A'raf: 96)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberkahan memiliki hubungan erat dengan iman dan takwa. Karena itu, seseorang bisa saja memiliki penghasilan yang tidak terlalu besar, tetapi hidupnya dipenuhi ketenteraman, kecukupan, dan kemudahan. Sebaliknya, ada pula yang berpenghasilan tinggi namun selalu diliputi kegelisahan dan merasa kurang.
Dalam pandangan Al-Ghazali, keberkahan bukanlah soal banyaknya harta, melainkan manfaat, ketenangan, dan kebaikan yang Allah tanamkan dalam rezeki tersebut.
Ketika Harta Banyak tetapi Hati Tidak Tenang
Dalam pandangan Al-Ghazali, manusia sering terjebak pada anggapan bahwa kebahagiaan akan datang seiring bertambahnya harta. Padahal, tidak semua kekayaan menghadirkan ketenteraman.
Seseorang bisa saja memiliki penghasilan tinggi, tetapi jika seluruh pikirannya tersita oleh ambisi menumpuk kekayaan, ia justru menjadi tawanan hartanya sendiri. Hidupnya dipenuhi kecemasan, ketakutan kehilangan, dan kelelahan yang tak berujung.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan bekerja bukan sekadar mengumpulkan kekayaan, melainkan memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap menjaga orientasi akhirat. Karena itu, mencari nafkah harus berjalan seiring dengan ketaatan kepada Allah SWT, bukan menjadi penghalang bagi ibadah dan kehidupan spiritual.

2 hours ago
2
















































