Harianjogja.com, JOGJA— Orang tua perlu lebih memperhatikan pengalaman anak ketika menggunakan media sosial, bukan hanya menghitung berapa lama mereka menatap layar. Paparan terhadap perundungan daring, tekanan mendapatkan validasi, kebiasaan membandingkan diri, hingga konten negatif dapat berkaitan dengan kondisi emosional anak dan remaja.
Media sosial telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari anak dan remaja. Platform digital digunakan untuk berkomunikasi, mencari hiburan, sekaligus memperoleh informasi sehingga interaksi dapat berlangsung lebih luas dan mudah.
Di balik manfaat tersebut, penggunaan media sosial pada usia dini yang berlebihan dan tidak terkontrol menjadi hal yang perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengingatkan adanya sejumlah risiko terhadap kesehatan jiwa, mulai dari perasaan terisolasi, gangguan kecemasan atau ansietas, depresi, hingga fear of missing out (FOMO).
Bukan Sekadar Berapa Lama Anak Menatap Layar
Hubungan antara media sosial dan kecemasan pada anak tidak dapat dilihat secara sederhana. Penggunaan media sosial bukan satu-satunya penyebab gangguan kecemasan karena kondisi tersebut dapat dipengaruhi berbagai faktor internal dan eksternal.
Meski demikian, cara anak berinteraksi dengan platform digital serta pengalaman yang mereka temui di dalamnya dapat menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya membatasi durasi penggunaan gawai.
Kualitas pengalaman anak selama berada di dunia maya juga perlu menjadi perhatian. Apa yang mereka lihat, bagaimana mereka berinteraksi, serta pengalaman sosial yang mereka dapatkan dapat menjadi bagian dari kondisi yang perlu dievaluasi.
Salah satu hal yang dapat memicu tekanan digital adalah kebiasaan membandingkan diri atau social comparison. Media sosial kerap memperlihatkan potongan kehidupan yang dianggap terbaik, termasuk penampilan fisik yang telah disunting dan pencapaian seseorang.
Bagi anak dan remaja yang masih berada dalam proses pencarian jati diri, paparan terhadap standar tersebut dapat memengaruhi rasa percaya diri dan memunculkan kekhawatiran. Mereka dapat terus melihat gambaran kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna dibandingkan kondisi dirinya.
Tiga Risiko yang Perlu Diperhatikan
Ada sejumlah pengalaman di ruang digital yang patut menjadi perhatian orang tua ketika anak menggunakan media sosial. Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan konten yang ditonton, tetapi juga interaksi dan tekanan sosial yang muncul di dalamnya.
Cyberbullying, berupa komentar buruk atau perundungan daring yang dapat mengganggu kondisi emosional anak.
Tekanan lingkungan, termasuk tuntutan untuk selalu tampil sempurna dan memperoleh validasi melalui jumlah "likes" atau "comments".
Konten negatif, yakni paparan informasi atau perilaku yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Ketiga hal tersebut membuat penggunaan media sosial perlu dilihat secara lebih menyeluruh. Pembatasan waktu tetap penting, tetapi pengalaman anak selama menggunakan platform digital juga tidak boleh diabaikan.
Kemenkes Temukan Gejala Masalah Kesehatan Mental
Perhatian terhadap kesehatan mental anak juga tercermin dalam program Cek Kesehatan Gratis yang dilakukan Kemenkes RI. Berdasarkan hasil skrining kesehatan tersebut, ditemukan indikasi banyak anak menunjukkan gejala masalah kesehatan mental, termasuk gejala kecemasan.
Namun, hasil skrining tersebut tidak berarti seluruh gejala kecemasan berasal dari penggunaan media sosial. Data yang tersedia bersifat komprehensif sehingga berbagai faktor tetap perlu dipertimbangkan dalam melihat kondisi kesehatan mental anak.
Faktor digital tetap menjadi salah satu elemen yang perlu dievaluasi, terutama ketika anak mengalami pengalaman negatif selama menggunakan media sosial. Dengan demikian, perhatian orang tua sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang berapa jam anak menggunakan gawai.
Pendampingan Orang Tua Lebih dari Sekadar Melarang
Orang tua memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat di rumah. Pendampingan tidak harus selalu berbentuk larangan, tetapi dapat dilakukan dengan membangun komunikasi dan kebiasaan yang membantu anak merasa aman ketika menceritakan pengalaman mereka di dunia maya.
Komunikasi terbuka dapat menjadi salah satu langkah awal. Anak perlu memiliki ruang untuk bercerita mengenai apa yang mereka lihat dan alami di media sosial tanpa merasa takut langsung dihakimi.
Pengaturan waktu penggunaan gawai juga tetap diperlukan. Jadwal penggunaan perangkat digital sebaiknya tidak sampai mengganggu tidur, belajar, maupun waktu istirahat anak.
Selain aktivitas di depan layar, orang tua dapat mendorong anak melakukan kegiatan di luar gawai. Olahraga, hobi fisik, serta interaksi tatap muka dengan keluarga dan teman sebaya dapat menjadi bagian dari keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Perubahan Perilaku Anak Perlu Diwaspadai
Orang tua juga perlu memberikan perhatian lebih apabila terjadi perubahan perilaku yang signifikan dan berlangsung terus-menerus. Perubahan tersebut dapat menjadi tanda bahwa anak membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain perasaan cemas secara berlebihan atau serangan panik, menarik diri dari lingkungan sosial dan keluarga, serta gangguan tidur yang parah atau perubahan pola makan.
Penurunan performa akademik dan kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari juga termasuk tanda yang perlu diperhatikan. Kondisi tersebut tidak sebaiknya diabaikan apabila berlangsung secara terus-menerus.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, orang tua disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional di bidang kesehatan mental. Langkah tersebut diperlukan agar kondisi anak dapat memperoleh penanganan yang sesuai.
Pada akhirnya, perhatian terhadap media sosial pada anak tidak hanya berkaitan dengan durasi screen time. Cara anak menggunakan platform, pengalaman yang mereka dapatkan, serta perubahan kondisi emosional dan perilaku juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan orang tua.
Pendampingan yang suportif dan kebiasaan digital yang sehat dapat membantu keluarga menghadapi perkembangan teknologi tanpa mengabaikan kesehatan mental anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































