Jumali Selasa, 01 September 2026 07:17 WIB

BYD Dolphin. - Harian Jogja/Antara
Harianjogja.com, JOGJA— Investor langsung merespons negatif laporan keuangan semester I 2026 BYD. Saham produsen kendaraan listrik raksasa asal Tiongkok tersebut merosot hampir 5% pada perdagangan Senin (31/8/2026), setelah kinerja keuangan perusahaan menunjukkan tekanan pada pendapatan dan laba bersih.
Penurunan saham BYD terjadi ketika perusahaan masih mampu mencatat pertumbuhan kuat dari pasar luar negeri. Di satu sisi, ekspor kendaraan meningkat signifikan, tetapi di sisi lain permintaan domestik Tiongkok yang lesu dan persaingan pasar yang semakin ketat menekan kinerja perusahaan.
Kontras antara pasar dalam negeri dan ekspor menjadi salah satu gambaran penting dari kinerja BYD sepanjang paruh pertama 2026. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian investor karena BYD menghadapi tekanan margin ketika kompetisi industri otomotif Tiongkok semakin sengit.
Pendapatan BYD Semester I 2026 Turun
Pada kuartal II 2026, BYD membukukan laba bersih sebesar 8,2 miliar yuan atau sekitar US$1,2 miliar. Angka tersebut meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan laba tersebut berlangsung ketika pendapatan perusahaan justru mengalami penurunan. Berdasarkan perhitungan Citi setelah laporan keuangan BYD dirilis, pendapatan kuartal II 2026 turun 3% menjadi 194,6 miliar yuan.
Untuk keseluruhan semester I 2026, tekanan terlihat lebih jelas. Pendapatan BYD tercatat 344,8 miliar yuan, turun 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham perusahaan juga turun 20,5% menjadi 12,3 miliar yuan. Penurunan laba tersebut menjadi salah satu indikator tekanan yang dihadapi BYD di tengah kondisi industri otomotif Tiongkok.
BYD menyebut permintaan domestik Tiongkok masih lesu sepanjang semester I 2026. Pada saat bersamaan, perusahaan mencatat pertumbuhan ekspor yang kuat.
Persaingan yang semakin ketat turut menjadi tantangan bagi industri otomotif Tiongkok. Selain itu, kenaikan biaya komoditas, bahan baku, dan chip ikut memberikan tekanan terhadap margin keuntungan produsen otomotif, termasuk BYD.
Ekspor BYD Melonjak 67,8%
Ketika pasar domestik menghadapi tekanan, kinerja ekspor justru memberikan catatan positif bagi BYD. Ekspor kendaraan perusahaan meningkat 67,8% secara tahunan menjadi 792.000 unit pada semester I 2026.
Lonjakan tersebut menunjukkan pertumbuhan penjualan kendaraan BYD di pasar luar negeri. Ekspansi global menjadi salah satu sisi yang masih memberikan momentum pertumbuhan bagi perusahaan ketika permintaan dalam negeri Tiongkok belum pulih.
BYD juga mencatat pertumbuhan pada segmen premium di pasar Tiongkok. Penjualan gabungan merek Fang Cheng Bao, Denza, dan Yangwang meningkat 61% secara tahunan.
Ketiga merek premium tersebut menyumbang 12,8% dari penjualan kendaraan penumpang grup BYD. Pertumbuhan ini menjadi salah satu catatan positif dari pasar domestik di tengah tekanan yang terjadi pada industri otomotif Tiongkok.
Citi Masih Proyeksikan Laba BYD Naik
Di tengah tekanan kinerja semester pertama, Citi masih melihat adanya ruang pertumbuhan laba BYD pada paruh kedua 2026. Lembaga tersebut memperkirakan laba inti BYD pada kuartal III 2026 dapat mencapai 13,5 miliar yuan.
Untuk sepanjang 2026, laba bersih BYD diperkirakan mencapai 41,2 miliar yuan. Proyeksi tersebut sekitar 8% lebih tinggi dibandingkan konsensus.
Perkiraan tersebut menjadi salah satu perhatian pasar setelah saham BYD mengalami tekanan pada perdagangan di Hong Kong. Investor kini mencermati kemampuan perusahaan mempertahankan pertumbuhan di luar negeri sekaligus menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar domestik Tiongkok.
Dengan kondisi tersebut, kinerja BYD memasuki fase yang memperlihatkan dua arah berbeda. Ekspor kendaraan dan pertumbuhan merek premium memberikan catatan positif, sementara penurunan pendapatan dan laba semester I 2026 menunjukkan tekanan yang masih harus dihadapi perusahaan.
Pergerakan saham BYD di Hong Kong yang turun hampir 5% setelah laporan keuangan dirilis memperlihatkan perhatian investor terhadap kondisi tersebut. Tekanan pasar domestik Tiongkok dan kinerja keuangan semester pertama menjadi faktor yang turut membayangi perusahaan, meskipun ekspansi global masih menunjukkan pertumbuhan.
Pasar selanjutnya menunggu strategi BYD dalam menghadapi persaingan di Tiongkok sekaligus mempertahankan laju ekspansi global yang telah mendorong kenaikan ekspor sepanjang semester I 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































