Foto ilustrasi bank sampah anorganik, dibuat menggunakan Artificial Intelligence. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, memiliki 11 titik biopori jumbo yang dimanfaatkan untuk mengelola sampah organik di lingkungan permukiman. Seluruh fasilitas tersebut saat ini sudah difungsikan meskipun sebagian belum berjalan secara optimal.
Lurah Demangan Suleman Pirson Joko Susilo mengatakan titik biopori jumbo tersebut tersebar di beberapa lokasi di wilayah kelurahan, dengan jumlah terbanyak berada di Kampung Sapen.
“Ada 11 titik biopori jumbo di Kelurahan Demangan. Enam titik di Kampung Sapen, dua di lingkungan kelurahan, dan tiga titik di Kampung Pengok di Taman Sehati yang merupakan pengadaan terbaru tahun 2025 dari DLH,” ujar Susilo.
Ia menjelaskan, program biopori jumbo tersebut bermula dari usulan masyarakat yang disampaikan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan dan mulai direalisasikan pada 2024.
“Yang sudah terwujud pada 2024 itu di Kampung Sapen ada enam titik biopori jumbo. Dari enam itu yang berjalan dengan baik ada empat, sementara dua lainnya belum optimal,” katanya.
Pemantauan fasilitas biopori dilakukan secara berkala oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta. Selain itu, Kelurahan Demangan juga didukung dua petugas Juru Pilah Sampah (Jumilah) yang membantu memantau kondisi biopori.
“Mereka mengecek mana yang kosong lalu memasukkan sampah dedaunan kering ke dalamnya,” jelasnya.
Apabila lubang biopori telah penuh, sampah organik yang terkumpul akan diberi cairan EM4 dan molase untuk mempercepat proses penguraian. Setelah itu, lubang biopori ditutup selama beberapa bulan hingga menghasilkan kompos.
“Kalau sudah penuh diberi cairan EM4 dan molase, lalu ditutup minimal tiga bulan sampai menjadi kompos yang bisa dipanen DLH atau dimanfaatkan warga sebagai media tanam,” kata Susilo.
Selain memanfaatkan biopori jumbo, pengelolaan sampah organik di wilayah tersebut juga didukung penggunaan komposter. Pada 2024, Kampung Sapen memperoleh bantuan 20 unit komposter berbentuk ember besar.
“Dari 20 komposter itu yang berjalan dengan baik sementara ada 12 unit. Sebagian lainnya dimanfaatkan warga untuk pengelolaan lain seperti eko-enzim,” ujarnya.
Pada 2025, Kelurahan Demangan kembali memperoleh tambahan komposter dengan jumlah yang diperkirakan sekitar 20 unit untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di tingkat kampung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































