Kebakaran Hutan Marak di Indonesia, Kemenhut Siapkan Hujan Buatan dan Rehabilitasi

5 hours ago 7

Harianjogja.com, SLEMAN—Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan sejumlah langkah untuk menangani kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah, termasuk kawasan gunung di Jawa Timur. Penanganan dilakukan melalui kerja sama lintas institusi, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penegakan hukum hingga rehabilitasi hutan dan lahan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Dyah Murtiningsih mengatakan Kemenhut telah turun menangani berbagai kejadian kebakaran. Penanganan juga dilakukan terhadap kebakaran di sejumlah gunung di Jawa Timur yang sebagian kawasannya merupakan kawasan konservasi.

"Tentu saja kita pada semua kebakaran, kita selalu turun. Terutama adalah pengelola kawasan, karena yang ada di tujuh [gunung] di Jawa Timur itu ada di kawasan konservasi sebagian dan kemudian perlu kita cek juga apakah itu ada di luar kawasan hutan atau bukan," kata Dyah saat menghadiri acara di UGM pada Selasa (15/9/2026).

Aktivitas Manusia Jadi Faktor Utama

Dalam penanganannya, Kemenhut tidak bekerja sendiri. Pemerintah menggandeng BNPB, TNI, Polri, pemerintah daerah serta masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung.

Dyah mengatakan penyebab kebakaran masih perlu didalami. Namun, berdasarkan kejadian yang selama ini terjadi, aktivitas manusia menjadi salah satu faktor terbesar pemicu kebakaran.

"Ya, kita harus dalami ya. Tetapi biasanya paling besar terjadinya kebakaran biasanya akan ada akibat manusia di sana, bisa macam-macam," tuturnya.

Selain aktivitas manusia, kondisi El Nino tahun ini turut menjadi perhatian. Kemarau yang lebih panjang dan kering membuat kebakaran lebih sering terjadi dan berpotensi meluas.

"Munculnya kebakaran ini akan menjadi sering terjadi, karena kondisi iklim yang memang sangat kering. Terpantik dengan suatu kejadian, pastinya juga akan meluas," jelasnya.

Dyah juga mengingatkan bahwa kebakaran di Indonesia tidak seluruhnya terjadi di kawasan hutan. Sebagian kejadian justru berasal dari kawasan di luar hutan.

"Kebakaran yang terjadi di Indonesia tidak semuanya bersumber dari kawasan hutan. Ada di kawasan hutan, ada di luar kawasan hutan, separuh-separuh, hampir separuh-separuhlah," tuturnya.

Bromo Berpotensi Terdampak Paling Besar

Dari sejumlah gunung yang mengalami kebakaran, Gunung Bromo disebut berpotensi menjadi kawasan dengan dampak paling besar. Namun, Dyah menegaskan data tersebut masih perlu dicek lebih lanjut.

"Kita harus cek dulu ya datanya [mana yang terparah]. Tetapi kemarin kita melihat juga Bromo juga setelah yang di bulan Agustus itu terjadi kebakaran, kemarin terjadi kebakaran lagi. Ya, kita akan cek datanya, kemungkinan di Bromo mungkin yang paling besar," ungkap Dyah.

Untuk mengendalikan kebakaran, pemerintah juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan memanfaatkan hujan buatan. Meski demikian, efektivitas strategi tersebut bergantung pada kondisi iklim dan ketersediaan bibit awan.

Tanpa adanya bibit awan, inisiasi hujan buatan melalui OMC tidak dapat dilakukan.

Selain pemadaman dan pengendalian, penegakan hukum juga menjadi bagian dari penanganan. Masyarakat maupun korporasi yang terbukti sengaja melakukan pembakaran akan diproses secara hukum.

Terkait informasi asap kebakaran dari Indonesia yang disebut sampai ke Vietnam, Dyah mengatakan pihaknya akan mengecek kembali informasi tersebut berdasarkan data yang ada. Menurutnya, kebakaran juga terjadi di sejumlah negara lain.

Rehabilitasi Hutan Disiapkan

Penanganan kebakaran tidak berhenti pada proses pemadaman. Kemenhut juga menyiapkan rehabilitasi hutan dan lahan untuk kawasan yang terdampak.

Dyah menjelaskan pos penganggaran rehabilitasi hutan berada di Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan. Untuk kawasan tertentu, seperti hutan produksi, rehabilitasi dilakukan oleh pihak pemegang perizinan.

"Kalau untuk rehabilitasi hutan dan lahan, kita selalu menyiapkan anggaran setiap tahun. Tahun ini sekitar 15.000 hektar, itu hanya dari APBN. Tetapi juga dari kegiatan atau anggaran-anggaran lain yang tidak mengikat seperti ada kewajiban PPKH yang harus melakukan rehabilitasi hutan. Kita juga punya mentargetkan, tetapi setiap tahun kita mentargetkan 200.000 hektar," tandasnya.

Khusus di Gunung Bromo, pemulihan kawasan terdampak kebakaran diperkirakan dapat berlangsung secara alami ketika musim hujan tiba. Kondisi tersebut berkaitan dengan karakter kawasan Bromo yang merupakan sabana.

"Bromo itu kan sabana. Nah, pada saat dia terjadi kebakaran, dia pada saat musim hujan, dia akan kembali pulih, artinya tanpa dilakukan kegiatan untuk sabana ya, tanpa dilakukan kegiatan penanaman, dia akan kembali menjadi hijau kembali," jelasnya.

Sementara untuk lokasi kebakaran lainnya, rehabilitasi hutan dan lahan tetap akan dilakukan.

"Pada lokasi-lokasi kebakaran yang lain, ini pasti kita akan melakukan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan," imbuh Dyah.

Kebakaran di DIY Juga Meningkat

Ancaman kebakaran juga terjadi di Daerah Istimewa Jogja (DIY). Polda DIY melaporkan adanya peningkatan signifikan kejadian kebakaran selama musim kemarau tahun ini dibandingkan periode sebelumnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Polda DIY menginstruksikan seluruh jajaran Polres dan Polresta meningkatkan kesiapsiagaan bencana sekaligus memperketat patroli untuk memantau titik api.

Kabidhumas Polda DIY Kombes Pol Ihsan mengatakan Mabes Polri telah memberikan petunjuk arah (jukrah) kepada seluruh Polda agar selalu siap menghadapi ancaman kekeringan dan kebakaran. Kemarau tahun ini dinilai lebih lama sehingga potensi kebakaran juga meningkat.

"Jogja sendiri juga ada kebakaran tapi memang skalanya masih kecil," terang Ihsan pada Rabu (26/8/2026).

Polda DIY kemudian menginstruksikan jajaran Polres/Polresta, terutama wilayah yang rawan seperti Gunungkidul, Bantul dan Sleman, untuk mengintensifkan edukasi kepada masyarakat.

Edukasi tersebut dilakukan sebagai langkah pencegahan agar kebakaran tidak terjadi atau setidaknya dapat diminimalisasi.

Menurut Ihsan, kejadian kebakaran hingga saat ini telah mengalami peningkatan. Salah satu kejadian cukup besar di DIY terjadi di wilayah Pundong, Bantul, yang bahkan meluas ke arah Gunungkidul.

"Ini sudah ada peningkatan ya jika dibandingkan periode-periode sebelumnya. Sehingga sekali lagi dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan membakar," tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|