REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa pemerintah mendukung penuh upaya pelestarian budaya dan penguatan narasi sejarah masyarakat adat, khususnya terkait Tumbang Anoi sebagai peristiwa penting dalam sejarah perdamaian suku Dayak.
“Kami sebagai pemerintah sangat mendukung berbagai upaya yang dapat memajukan kebudayaan nasional, termasuk penguatan narasi sejarah seperti Tumbang Anoi. Penguatan nilai hukum adat Tumbang Anoi bisa dikolaborasikan juga dengan Kementerian Hukum,” ucap Fadli dalam keterangan tertulis yang dikonfirmasi dari Jakarta, Rabu.
Sedangkan untuk usulan penyelenggaraan kegiatan yang diajukan oleh Elemen Masyarakat Adat (Emas Dayak), Fadli menyebut bisa melibatkan Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Tengah sehingga dapat berjalan lebih efektif dan terukur.
Ketua Emas Dayak, Mandeh, menyampaikan keprihatinan terhadap semakin berkurangnya penerapan hukum adat di Kalimantan dan menekankan bahwa Tumbang Anoi merupakan tonggak penting perdamaian adat yang memiliki nilai besar, bahkan diakui di tingkat internasional. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih dalam mendorong kembali penegakan hukum adat yang telah dirumuskan dan disahkan pada 1894.
Namun demikian, implementasi hukum adat yang telah disepakati dinilai tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Untuk itu, ia bersama Emas Dayak menyampaikan rencana penyelenggaraan rangkaian kegiatan budaya sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai Tumbang Anoi sekaligus mengukuhkan kembali posisinya sebagai hukum adat yang sah dan dipatuhi masyarakat.
“Kami berharap hukum adat yang telah disusun oleh kakek kami, Damang Batu beserta para perwakilan suku waktu itu, dapat kembali ditegakkan dan tidak dikesampingkan. Semoga mendapat dukungan dari pemerintah, khususnya Kementerian Kebudayaan,” ujarnya.
Sementara itu, pembina dan penasihat Emas Dayak, H.R.M. Soekarna, menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam menegakkan kembali hukum adat Tumbang Anoi. Ia juga berharap sejarah peristiwa tersebut dapat diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat sebagai bagian dari edukasi publik.
Emas Dayak berencana menggelar kirab budaya yang dikaitkan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026. Kirab tersebut akan membentangkan bendera merah putih sepanjang 118 meter, melibatkan berbagai elemen masyarakat, serta dimeriahkan dengan pertunjukan adat Dayak dan Nusantara.
Di balik rencana kirab dan penguatan narasi sejarah itu, Tumbang Anoi sesungguhnya bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan simpul ingatan kolektif yang masih berdenyut dalam kehidupan masyarakat Dayak hingga kini. Ia adalah ruang perjumpaan—antara konflik dan rekonsiliasi, antara tradisi dan kesadaran baru akan hidup bersama.
sumber : Antara

4 hours ago
1

















































