REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN — Indonesia mengutuk kekerasan terstruktur zionis Israel yang mensponsori warganya untuk mengambil paksa kompleks Masjidil al-Aqsa dan wilayah-wilayah sekitarnya di Palestina. Brutalisme yang melibatkan kelompok-kelompok ekstrem Yahudi dan militer zionis itu merupakan pelanggaran hukum internasional terang-terangan. Indonesia menegaskan dukungannya terhadap Kerajaan Hasyimiyah Yordania atas perannya sebagai negara wali amanat penjaga keberadaan Masjidil al-Aqsa.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arrmanatha Nasir saat mewakili Indonesia dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Negara-Negara Arab dan Islam, di Amman, Yordania. “Indonesia mengecam dan menegaskan kekerasan warga Israel dan pelanggaran hukum internasional oleh Israel di wilayah Palestina, termasuk di Yerusalem Timur, Kompleks Masjid al-Aqsa, dan Tepi Barat,” begitu kata Arrmanatha melalui siaran pers yang disampaikan kepada Republika, di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Pertemuan menteri-menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam itu diinisiasi oleh Yordania, menyusul situasi krisis di Yerusalem, dan Tepi Barat di Palestina. Baru-baru ini zionis, dan tokoh-tokoh pemerintahannya mengkampanyekan, bahkan mensponsori kelompok-kelompok ekstrem, dan warga Yahudi di israel untuk mengambil paksa lahan-lahan warga Palestina yang berada di Yerusalem Timur, dan Tepi Barat. Dengan dukungan personel militer bersenjata, kelompok-kelompok ekstrem Yahudi di israel itu, pun mengepung untuk mengambil alih penguasaan Masjidil al-Aqsa.
Aksi sepihak Israel itu, memicu kekerasan yang berujung pada perlawanan untuk bertahan warga di Palestina. Situasi tersebut, pun memicu Yordania mengambil sikap untuk mempertahankan statusnya sebagai negara penjaga Masjidil al-Aqsa. Kerajaan Yordania mengundang negara-negara Arab dan Islam, termasuk Indonesia untuk membahas, dan mengambil sikap bersama atas kegilaan berlanjut rezim zionis di Tanah Palestina tersebut.
Wamenlu Arrmanatha dalam penyampaian sikap resmi Indonesia atas situasi terkini di Palestina itu menegaskan Israel dengan kekuatan militernya yang semakin terang-terangan melakukan pelanggaran hukum internasional. “Indonesia turut merasakan kekhawatiran mendalam yang kita semua rasakan di sini, bahwa semakin banyak gerakan pemukiman-pemukiman zionis yang melewati gerbang situs-situs suci di bawah pengawalan tentara yang seharusnya menjaga perdamaian,” begitu kata Arrmanatha.
“Di seluruh Tepi Barat, pola yang sama terus berlanjut dengan kekebalan atas tindakan yang tegas. Semakin banyak tanah yang dirampas, semakin banyak pemukiman yang dibangun. Indonesia mengutuk tindakan-tindakan ini,” sambung Wamenlu. Indonesia menegaskan, tak menerima agresi gamblang yang dilakukan Zionis Israel di kompleks Masjidil al-Aqsa, Yerusalem, pun di Tepi Barat tersebut. “Hal ini tidak dapat diterima, dan tidak boleh dinormalisasi,” ujar Arrmanatha.
Indonesia, Arrmanatha menegaskan, pada posisi terang mendukung penuh status Kerajaan Hasyimiyah Yordania sebagai negara penjaga Kompleks Masjidil al-Aqsa. Dan kembali memastikan posisi yang tak berubah dalam mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara itu. “Indonesia kembali menegaskan dukungan terhadap Hashemite custodianship atas tempat-tempat suci di Jerussalem termasuk al-Haram al-Syarif, serta kemerdekaan negara Palestina,” tegas Arrmanatha.
Zionis manfaatkan perpecahan negara Islam dan Arab
Selain Indonesia, dalam pertemuan di Yordania itu juga turut hadir menteri-menteri dan wakil-wakil menteri luar negeri dari Aljazair, Arab Saudi, Irak, Mesir dan Turki, Tunisia, Somalia, serta Pakistan, juga Maroko, Malaysia, Palestina, dan Qatar. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Arab, pun turut hadir dalam pertemuan darurat tersebut. Dan Indonesia dalam sikap resminya, juga kembali mengingkatkan negara-negara Islam juga Arab melupakan pola-pola politik lama yang hingga kini membuat persatuan menjadi bubar.
Indonesia mengajak negara-negara Arab dan Islam melihat realitas geopolitik di kawasan saat ini. Kata Arrmanatha, lanskap politik di kawasan Timur Tengah saat ini berubah ke arah yang drastis karena terjadinya peningkatan aktivitas pemukiman ilegal yang dimotori zionis di Tepi Barat, dan agresi genosida yang dilakukan zionis israel di Gaza, juga invansi Israel ke wilayah Suriah, Lebanon. Pun itu ditambah dengan eskalasi militer tinggi antara Amerika Serikat (AS) bersama Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran.
Realitas politik di kawasan itu tampak menunjukkan terpecahnya rasa persatuan dan persaudaraan antara sesama negara-negara Arab dan Islam. Kata Arrmanatha, zionis israel memanfaatkan saling tak akur sesama negara-negara Arab dan Islam itu. “Israel tidak takut pada kemarahan kita. Mereka justeru mengandalkan perpecahan di antara kita. Persatuan adalah satu kekuatan yang belum pernah sepenuhnya kita manfaatkan. Jadi mari kita gunakan kekuatan itu bersama-sama,” kata Arrmanatha.

1 hour ago
5

















































