Selat Hormuz Iran. / ist
Harianjogja.com, JAKARTA— Pemerintah Inggris memastikan tidak akan ikut serta dalam rencana blokade Selat Hormuz yang diumumkan Presiden Donald Trump, sekaligus menegaskan komitmennya menjaga jalur pelayaran tetap terbuka.
Sikap ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama setelah Amerika Serikat menyatakan akan memblokade salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia tersebut.
Melalui juru bicara resminya, pemerintah Inggris menekankan bahwa Selat Hormuz harus tetap bebas dilalui tanpa pungutan, karena perannya sangat penting bagi stabilitas ekonomi global dan biaya hidup domestik.
“Selat Hormuz tidak boleh dikenakan pungutan,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip Sky News.
Inggris juga disebut tengah bergerak cepat membangun koordinasi dengan Prancis dan sejumlah mitra internasional untuk membentuk koalisi yang berfokus pada perlindungan kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Langkah ini menunjukkan perbedaan pendekatan antara London dan Washington dalam merespons situasi di Selat Hormuz, yang menjadi titik krusial bagi arus perdagangan minyak dunia.
Sebelumnya, Presiden Trump sempat menyatakan bahwa Inggris akan mengirim kapal penyapu ranjau untuk membantu operasi di selat tersebut. Namun, pernyataan terbaru pemerintah Inggris menegaskan bahwa negara tersebut tidak akan terlibat dalam aksi blokade.
Perbedaan sikap ini berpotensi memengaruhi dinamika geopolitik di kawasan, terutama dalam upaya menjaga stabilitas jalur energi global yang selama ini menjadi perhatian banyak negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

















































