ILUNI UI Angkat Isu Lingkungan Lewat Bedah Novel Prahara di Lembah Parau

3 weeks ago 42

Center for Policy and Culture Lab Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB) menggelar diskusi dan bedah buku Prahara di Lembah Parau karya alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Mohamad Irfan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dinilai menjadi salah satu tantangan utama pembangunan Indonesia. Melalui karya sastra, berbagai persoalan lingkungan, eksploitasi sumber daya alam, hingga keadilan bagi masyarakat terdampak dapat menjadi ruang refleksi untuk mendorong kebijakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam diskusi dan bedah buku Prahara di Lembah Parau karya alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Mohamad Irfan. Kegiatan yang digelar Center for Policy and Culture Lab Ikatan Alumni Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (ILUNI UI FIB) bekerja sama dengan Biro Humas, Kearsipan, dan Tata Usaha Pimpinan Kementerian PPN/Bappenas melalui Galeri Pembangunan Indonesia serta Ikatan Alumni Universitas Indonesia Sekolah Ilmu Lingkungan (ILUNI UI SIL) itu berlangsung di Galeri Pembangunan Indonesia, Gedung Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Ketua ILUNI UI FIB Visna Vulovik mengatakan sastra tidak dapat dipisahkan dari sejarah, norma sosial, tradisi, dan budaya. Menurut dia, karya sastra menjadi media untuk mengingat berbagai peristiwa masa lalu agar menjadi pembelajaran bagi generasi masa kini.

Novel Prahara di Lembah Parau dipilih karena mengangkat kehidupan buruh tambang batu bara di Sawahlunto pada awal 1920-an. Selain menggambarkan praktik kerja paksa, eksploitasi tenaga kerja, dan ketimpangan sosial, novel tersebut juga menyoroti eksploitasi sumber daya alam beserta dampaknya terhadap masyarakat sekitar.

Visna menilai persoalan tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini ketika perlindungan pekerja, keadilan sosial, dan keberlanjutan lingkungan masih menjadi tantangan dalam proses pembangunan.

"Melalui kolaborasi dengan Bappenas dan ILUNI UI Sekolah Ilmu Lingkungan, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, melihat bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Banyak persoalan yang terus berulang dalam bentuk berbeda sehingga penting dipelajari agar tidak kembali terulang. Sastra menjadi salah satu medium yang mampu menghadirkan refleksi tersebut secara lebih dekat dan humanis," ujar Visna.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) sekaligus Ketua Umum ILUNI UI Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Andre Notohamidjojo mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan agar Indonesia tidak terjebak dalam resource curse atau kutukan sumber daya alam.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|