Dugaan Match Fixing Seret Nama Pebulu Tangkis Indonesia, Pengamat: Tunggu Putusan BWF

1 hour ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, 

Dugaan Match Fixing Seret Nama Pebulu Tangkis Indonesia, Pengamat: Tunggu Putusan BWF

JAKARTA -- Pengamat bulu tangkis Daryadi meminta semua pihak menunggu keputusan resmi dari Federasi Bulu Tangkis Dunia atau Badminton World Federation terkait dugaan match fixing yang menyeret nama pemain Indonesia. Menurut dia, proses investigasi masih berlangsung sehingga belum dapat disimpulkan apakah para pemain benar-benar terlibat dalam praktik pengaturan pertandingan.

Kepada Republika.co.id, Selasa (4/8/2026), Daryadi menjelaskan bahwa BWF umumnya baru melakukan penyelidikan apabila menerima laporan dari pihak yang merasa dirugikan. Ia menilai sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, BWF membuka investigasi tanpa adanya laporan lebih dahulu. "Kita tunggu saja pengumuman dari BWF," kata Daryadi.

Menurut Daryadi, praktik match fixing bukanlah persoalan baru di dunia bulu tangkis. Ia mengibaratkannya seperti sesuatu yang keberadaannya dapat dirasakan, tetapi pelakunya sulit dibuktikan. Sebagai komentator yang telah lama mengikuti pertandingan bulu tangkis, ia mengaku kerap dapat mencium tanda-tanda pertandingan yang patut dicurigai sebagai hasil pengaturan.

Ia menilai salah satu indikasi yang dapat memunculkan kecurigaan adalah ketika pemain dengan peringkat jauh lebih tinggi dan pengalaman lebih matang justru kalah dari lawan yang kualitasnya berada di bawahnya. Daryadi mencontohkan, pada masa lalu pernah ada pemain papan atas asal China yang berkali-kali gagal menjadi juara di Istora Senayan karena kalah dari lawan yang tidak diunggulkan. Padahal pada masa jayanya, dia hampir tak punya lawan sepadan dan hanya punya satu pesaing yang sesekali menjegalnya. Namun, karena tidak ada laporan kepada BWF, pertandingan tersebut tidak pernah masuk ke tahap investigasi.

Daryadi menambahkan, match fixing tidak selalu berkaitan dengan praktik perjudian atau bandar judi. Dalam sejumlah kasus, pengaturan hasil pertandingan juga dapat terjadi sebagai bagian dari strategi tim, baik atas keputusan pemain maupun instruksi pelatih. Tujuannya bisa untuk menghindari calon lawan tertentu pada babak berikutnya atau demi memperoleh keuntungan dari sisi perolehan poin peringkat. Jika strategi semacam itu menimbulkan pihak yang merasa dirugikan, barulah laporan dapat diajukan kepada BWF untuk ditindaklanjuti.

Terkait dugaan kasus yang kini mencuat, Daryadi kembali menegaskan pentingnya menunggu hasil investigasi BWF sebelum memberikan penilaian. Ia juga mengingatkan bahwa isu serupa pernah disinggung oleh salah satu mantan ganda putra terbaik Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Pada 2022, Kevin mengungkapkan bahwa dirinya bersama Marcus Fernaldi Gideon pernah diminta mengalah saat tampil di final India Open 2016. "Sampai waktu itu pada titik di final India Open, pertama kali saya final Super Series 2016, saya hampir disuruh mengalah sama pelatih, tetapi kami tidak mau," ujar Kevin saat itu.

Kevin menjelaskan, dirinya dan Marcus memilih tetap bertanding serius, sementara pasangan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi juga menginginkan pertandingan berlangsung secara normal.

Sementara itu, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia hingga kini belum memberikan komentar terkait dugaan match fixing yang menyeret tujuh pemain Indonesia. Federasi nasional tersebut menyatakan masih menunggu keputusan resmi dari BWF sebelum menentukan langkah atau tindakan lebih lanjut. 

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|