Mengapa Barat Kerap Salah Memahami Ketangguhan Sistem Politik Iran?

1 hour ago 2

Warga Iran merayakan peringatan 44 tahun Revolusi Islam 1979, di alun-alun Azadi (Kebebasan) di Teheran, Iran, (11/2/2023). Acara tersebut menandai peringatan 44 tahun revolusi Islam, yang terjadi sepuluh hari setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini kembali dari jabatannya. pengasingan di Paris ke Iran, menggulingkan sistem monarki dan membentuk Republik Islam.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN— "Ada pesona dalam revolusi yang mampu memikat hati manusia."

Demikian kesan yang tertanam dalam benak penyair Inggris, William Wordsworth, ketika menyaksikan Paris setelah meletusnya Revolusi Prancis pada Mei 1789.

Bagi Wordsworth, tidak ada yang lebih mengagumkan daripada keberanian massa revolusioner—kesediaan mereka berkorban, keberanian menghadapi risiko, sekaligus ketegasan yang nyaris tanpa kompromi.

Wordsworth mendukung cita-cita revolusi yang menjunjung tinggi kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan. Ia memandangnya sebagai fajar baru bagi umat manusia untuk melepaskan diri dari tirani dan monarki yang menindas.

Dalam puisi epiknya The Prelude, ia menulis kalimat terkenal: “Betapa indahnya hidup pada fajar itu, dan menjadi muda pada masa itu adalah kebahagiaan yang tak ternilai.”

Revolusi Prancis bukan sekadar peristiwa sejarah biasa. Revolusi-revolusi besar telah membentuk wajah dunia modern. Runtuhnya Marxisme-Leninisme di Eropa Timur mengubah lanskap politik Eropa dan membuka jalan bagi terbentuknya Uni Eropa modern.

Sementara itu, gelombang protes di Lapangan Tiananmen, China, pada 1989 terus membayangi Partai Komunis China hingga hari ini.

Namun, satu dekade sebelum Tiananmen, dunia menyaksikan revolusi lain yang dampaknya bahkan lebih besar terhadap konfigurasi politik kontemporer: Revolusi Iran 1979.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|