Ferrari Luce EV Dihujat tapi Laris di Thailand

2 hours ago 4

Jumali

Jumali Senin, 22 Juni 2026 09:07 WIB

Harianjogja.com, JOGJA— Mobil listrik pertama dalam sejarah Ferrari, yakni Ferrari Luce EV, menjadi pusat kontroversi global setelah peluncurannya di Roma pada 25 Mei 2026. Meski dibekali teknologi mutakhir dan desain futuristik, mobil ini justru memicu perdebatan sengit di kalangan pecinta otomotif.

Nama “Luce” yang diucapkan “Loo-che” langsung menjadi sorotan bukan karena performa, melainkan desainnya yang dianggap menyimpang dari identitas supercar Ferrari. Mobil ini juga menjadi Ferrari empat pintu lima kursi pertama dalam sejarah perusahaan, menandai perubahan besar dari tradisi desain kuda jingkrak yang selama ini dikenal.

Desain Luce EV merupakan hasil kolaborasi dengan firma desain LoveFrom yang dipimpin oleh Sir Jony Ive dan Marc Newson, dua figur yang sebelumnya dikenal melalui karya-karya di Apple. Kolaborasi ini sekaligus menjadi langkah pertama Ferrari menggunakan desainer eksternal untuk mobil produksi massal.

Namun, respons publik jauh dari positif. Mantan Ketua Dewan Direksi Ferrari, Luca Cordero di Montezemolo, menyebut mobil ini berpotensi “menghancurkan legenda” Ferrari. Kritik juga datang dari Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini yang mempertanyakan arah inovasi pabrikan tersebut.

Di media sosial, Luce EV menjadi bahan ejekan. Sejumlah warganet membandingkannya dengan mobil listrik massal dan menyebut desainnya terlalu jauh dari karakter sporty Ferrari. Sentimen negatif tersebut bahkan disebut turut memengaruhi pergerakan saham Ferrari yang sempat mengalami penurunan tajam setelah peluncuran.

Laris di Thailand meski kontroversial

Meski menuai kritik keras di Eropa dan dunia maya, Ferrari Luce EV justru menunjukkan performa pasar yang kuat di Thailand. Melalui distributor resmi Cavallino Motors, mobil ini dijual dengan harga sekitar 33,84 juta baht atau setara Rp18,3 miliar.

Menariknya, harga tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan di Eropa yang berada di kisaran €550.000 atau sekitar Rp11,3 miliar. Meski demikian, permintaan di Thailand dilaporkan terus meningkat, bahkan disebut menjadi salah satu pasar dengan jumlah pemesanan terbesar di Asia Tenggara.

CEO Ferrari, Benedetto Vigna, menanggapi situasi tersebut dengan optimistis. Ia menyebut minat pelanggan tetap tinggi dan tidak terpengaruh oleh perdebatan desain yang terjadi di ruang publik.

Spesifikasi performa tinggi

Secara teknis, Luce EV dibekali tenaga hingga 1.050 hp dengan akselerasi 0–100 km/jam hanya 2,5 detik. Kecepatan maksimumnya diklaim melampaui 310 km/jam dengan baterai 122 kWh yang dikembangkan internal oleh Ferrari.

Mobil ini juga menggunakan konfigurasi empat motor listrik, masing-masing untuk satu roda, dengan jarak tempuh lebih dari 530 km berdasarkan standar WLTP.

Antara kritik dan strategi masa depan

Fenomena Luce EV memperlihatkan pergeseran besar dalam strategi Ferrari menuju elektrifikasi. Seperti model SUV Purosangue yang sempat menuai kritik saat diluncurkan, Luce EV menunjukkan bahwa kontroversi tidak selalu sejalan dengan permintaan pasar.

Bagi industri otomotif, kasus ini menegaskan bahwa persepsi publik di media sosial tidak selalu mencerminkan perilaku konsumen sebenarnya, terutama di segmen kendaraan ultra-mewah.

Terlepas dari hujatan atau pujian, Ferrari Luce EV telah mencapai satu hal penting: menjadi pusat perhatian dunia otomotif global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|