Jumali Senin, 22 Juni 2026 08:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Pernahkah Anda bertemu seseorang yang sudah dewasa secara usia, tetapi masih mudah marah, sulit menerima kritik, atau sering menyalahkan orang lain? Kondisi ini menunjukkan bahwa kedewasaan fisik tidak selalu sejalan dengan kematangan emosional.
Menurut psikolog Susan Heitler dari Psychology Today, kematangan emosional bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam mengelola emosi, menghadapi konflik, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dalam berbagai kajian psikologi, orang yang belum matang secara emosional cenderung menunjukkan pola perilaku yang mirip dengan anak-anak ketika menghadapi tekanan atau keinginan yang tidak terpenuhi.
Emosi yang sulit dikendalikan hingga perilaku impulsif
Salah satu tanda paling umum adalah emosi yang mudah meledak. Individu seperti ini cenderung bereaksi berlebihan saat menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat merusak hubungan sosial maupun profesional.
Tanda lain adalah kebiasaan menyalahkan orang lain ketika menghadapi masalah. Alih-alih mengevaluasi diri, individu justru mencari pihak lain sebagai kambing hitam. Pola ini menghambat pertumbuhan pribadi dan melemahkan kepercayaan dalam hubungan.
Selain itu, kesulitan bersikap jujur dalam situasi tidak nyaman juga menjadi indikator penting. Orang yang belum matang cenderung menghindari tanggung jawab dengan berbohong atau menghindari kenyataan.
Pola komunikasi dan kontrol diri yang lemah
Dalam konflik, orang yang belum matang secara emosional kerap menyerang secara personal dibanding membahas masalah inti. Hal ini memperburuk situasi dan meninggalkan luka emosional yang berkepanjangan.
Perilaku lain yang sering muncul adalah bertindak impulsif tanpa mempertimbangkan akibat, seperti berbicara kasar atau mengambil keputusan terburu-buru saat emosi tidak stabil.
Selain itu, ada juga kecenderungan ingin menjadi pusat perhatian, sulit berbagi ruang sosial dengan orang lain, hingga memaksakan kehendak dalam berbagai situasi.
Sikap terhadap diri sendiri dan orang lain
Dalam aspek yang lebih dalam, ketidakmatangan emosional juga terlihat dari sikap narsistik berlebihan, di mana seseorang sulit memahami perspektif orang lain dan hanya berfokus pada dirinya sendiri.
Penggunaan mekanisme pertahanan yang tidak sehat, seperti menyangkal kesalahan atau menyerang balik, juga menjadi tanda yang sering muncul dalam situasi stres.
Puncaknya, individu yang belum matang secara emosional biasanya sulit mengakui kesalahan, sehingga menghambat proses evaluasi diri dan perbaikan perilaku.
Introspeksi diri sebagai langkah awal
Memahami tanda-tanda ini bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan sebagai bahan refleksi diri. Kematangan emosional merupakan proses yang terus berkembang dan dapat dilatih seiring waktu.
Dengan belajar mengelola emosi, menerima kritik, serta berani bertanggung jawab atas kesalahan, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih stabil secara emosional.
Pada akhirnya, kematangan emosional bukan sekadar kemampuan, tetapi perjalanan panjang yang menentukan kualitas hubungan seseorang dengan dirinya sendiri maupun orang lain.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































