REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di banyak rumah, sampah sering berakhir sebagai sesuatu yang ingin segera disingkirkan. Ia dianggap kotor, tak berguna, bahkan merepotkan. Namun di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, pandangan itu perlahan berubah. Sampah tak lagi dilihat sebagai akhir, melainkan sebagai awal, awal dari peluang ekonomi yang tumbuh dari hal-hal sederhana di rumah.
Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mengajak masyarakat untuk mulai mengelola sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Ia menegaskan, kesadaran kecil seperti memilah sampah bisa membawa dampak besar, bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi perekonomian keluarga.
“Sampah ini bukan sekadar masalah, tapi bisa bernilai ekonomi jika kita kelola dengan baik. Kuncinya ada pada kesadaran untuk memilah sejak dari sumbernya,” ujar Fatmawati dalam kegiatan peningkatan kapasitas dan keterampilan bagi perempuan di Aula Rumah Jabatan Bupati Pinrang, belum lama ini.
Ajakan ini bukan tanpa alasan. Volume sampah di Sulawesi Selatan terus meningkat. Data menunjukkan produksi sampah mencapai sekitar 908,85 ribu ton per tahun. Sementara di Kabupaten Pinrang saja, jumlahnya mencapai sekitar 76,125 ton per hari, mayoritas berasal dari aktivitas rumah tangga.
Di balik angka yang besar itu, tersimpan potensi yang selama ini belum tergarap optimal. Fatmawati mendorong penguatan bank sampah, pengolahan kompos, serta penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) sebagai solusi berkelanjutan.
Bagi banyak keluarga, terutama kaum perempuan, langkah ini membuka ruang baru. Dari dapur rumah, halaman kecil, hingga sudut belakang rumah, sampah mulai diolah menjadi sesuatu yang bernilai. Botol plastik dipilah, sisa makanan diolah menjadi kompos, dan barang bekas disulap menjadi produk kreatif.
Di beberapa titik, bank sampah mulai menjadi tempat bertemunya harapan dan usaha kecil. Warga menabung sampah layaknya menabung uang. Setiap kilogram plastik, kertas, atau logam memiliki nilai yang bisa ditukar. Perlahan, kebiasaan ini membentuk pola pikir baru, bahwa sampah bukan beban, tetapi aset.
Keseruan itu bahkan terasa seperti aktivitas sosial baru. Ibu-ibu berkumpul, saling berbagi cara memilah sampah, bertukar ide kerajinan, hingga berdiskusi soal pemasaran produk daur ulang. Dari kegiatan sederhana, tumbuh jejaring ekonomi yang lebih luas.
sumber : Antara

6 hours ago
3














































