REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (disingkat BMKG) mencatat sebanyak 7.578 titik panas hingga awal Agustus 2026. Jumlah tersebut bisa terus bertambah seiring sisa hari di tahun ini yang masih banyak.
"Jumlah titik panas kepercayaan tinggi Januari sampai 9 Agustus 2026 berjumlah 7.578 titik hotspot," kata Tim Kerja Analisis dan Pengelolaan Satelit Cuaca dan Petir, Novianti Ruliana kepada Republika, Senin (10/8/2026).
Berdasarkan jumlah hotspot atau titik panas kepercayaan tinggi Januari sampai 9 Agustus 2026 ada tujuh provinsi dengan titik terbanyak. Pertama, Kalimantan Barat dengan 2743 titik hotspot. Menyusul berikutnya Papua Selatan (662 titik hotspot), Kalimantan Tengah (577 titik hotspot), Riau (573 titik hotspot), Kalimantan Timur (406 titik hotspot), Sumatera Selatan (277 titik hotspot), dan Sulawesi Selatan (257 titik hotspot).
BMKG menjelaskan karhutla dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu aktivitas manusia, kondisi geografis, dan kondisi cuaca. Aktivitas manusia merupakan faktor pemicu utama, misalnya pembukaan lahan dengan cara dibakar. Lalu kondisi geografis seperti karakteristik lahan gambut, memengaruhi mudah tidaknya suatu wilayah terbakar serta tingkat kesulitan pemadaman.
"Kondisi cuaca meliputi curah hujan rendah, suhu tinggi, kelembapan udara rendah, dan angin kencang, berperan meningkatkan potensi serta mempercepat penyebaran kebakaran yang sudah terjadi," ujar Novianti.
Dalam kondisi normal, Novianti menyebut cuaca berperan sebagai faktor pendukung, bukan pemicu utama. Namun, pada kondisi kekeringan tinggi saat musim kemarau, terlebih jika disertai fenomena El Nino, peran cuaca dalam mendukung meluasnya karhutla dapat semakin meningkat.
"El Nino menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan serta musim kemarau yang lebih panjang dan kering dari kondisi normal, sehingga lahan dan vegetasi menjadi lebih rentan terbakar, dan kebakaran yang terjadi berpotensi lebih cepat meluas," ujar Novianti.
Oleh karena itu, Novianti menegaskan secara umum cuaca bukan penyebab tunggal karhutla. Sebab pemicu awal tetap didominasi oleh aktivitas manusia.
"Namun, pada periode dengan pengaruh El Nino, kontribusi faktor cuaca terhadap luas dan intensitas karhutla perlu mendapat perhatian lebih besar," ujar Novianti.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal, lebih kering, dan lebih panjang dari kondisi normal. Adapun puncak dominan pada Agustus (sekitar 48,84 persen luas daratan) dan September (25,41 persen), serta fenomena El Nino yang diprediksi bertahan hingga awal 2027 (peluang moderat 98 persen, kuat 62 persen).

8 hours ago
9















































