Massa menginjak bendera Isarel saat mengikuti aksi solidaritas Indonesia Lawan Genosida, Dukung Palestina Merdeka di Jakarta, Ahad (12/10/2025). Massa aksi mengutuk segala bentuk genosida terhadap warga Gaza yang dilakukan Israel serta menyuarakan kemerdekaan dan gencatan senjata yang permanen di Palestina.
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Bertolak belakang dengan upaya gencar Israel selama 78 tahun terakhir untuk menarik orang-orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia dengan slogan menyediakan “tanah air yang aman”, berbagai jajak pendapat justru menunjukkan meningkatnya fenomena migrasi balik dari Israel. Tren ini semakin menimbulkan kekhawatiran di Tel Aviv.
Jajak pendapat terbaru yang dipublikasikan Lembaga Penyiaran Israel mengungkapkan bahwa hampir seperlima warga Israel pernah mempertimbangkan untuk meninggalkan Israel dalam dua tahun terakhir.
Survei tersebut melibatkan sampel acak sebanyak 2.358 warga Israel. Hasilnya, 18 persen responden, atau hampir seperlima dari mereka, mengatakan bahwa selama 2024 dan 2025 mereka pernah mempertimbangkan untuk beremigrasi dari Israel. Sementara itu, 82 persen menyatakan tidak pernah memikirkannya.
Survei tersebut juga mengukur sejauh mana fenomena migrasi balik telah menyebar. Sekitar sepertiga responden mengatakan mereka mengenal seseorang yang meninggalkan Israel dalam dua tahun terakhir.
Sementara itu, 41 persen mengaku khawatir terhadap jumlah warga Israel yang memilih bermigrasi ke luar negeri.
Aljazeera, mengutip Anadolu melaporkan, Selasa (11/8/2026), secara umum, angka “migrasi balik” dari Israel menunjukkan peningkatan besar dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam empat tahun terakhir.
Puncaknya terjadi pada 2024, ketika jumlah total orang yang meninggalkan Israel secara permanen telah melampaui 150 ribu orang.

2 hours ago
3















































