Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran langsung mengguncang pasar global. Ancaman blokade di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak sekaligus menekan pergerakan bursa saham di Amerika Serikat.
Pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026), indeks utama di Wall Street bergerak variatif dengan kecenderungan melemah. Dow Jones turun 0,56% ke 47.916,57, S&P 500 terkoreksi 0,11% ke 6.816,89, sementara Nasdaq masih mampu menguat 0,35% ke 22.902,89.
Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak tajam. Minyak jenis WTI melesat hingga 9,3% menembus level US$105 per barel, sedangkan Brent naik 7,98% ke posisi US$102,80 per barel.
Lonjakan harga energi ini berdampak langsung pada inflasi. Data menunjukkan inflasi AS naik menjadi 3,3% pada Maret 2026 dari sebelumnya 2,4%, dengan kenaikan harga energi mencapai 12,5% sebagai pemicu utama.
Tim riset Sinarmas Sekuritas menilai kondisi tersebut mencerminkan pasar yang mulai memasuki fase konsolidasi setelah reli panjang, sambil menunggu kepastian arah negosiasi geopolitik.
“Meski demikian, pasar tetap mencermati risiko geopolitik yang masih tinggi, terutama ketegangan di Timur Tengah dan dinamika negosiasi yang berpotensi mempengaruhi stabilitas pasar ke depan,” tulis tim riset, Senin (13/4/2026).
Berbeda dengan Wall Street, bursa saham Asia justru mencatat penguatan. Indeks Nikkei melonjak 1,84%, Shanghai naik 0,51%, dan Hang Seng menguat 0,55%. Sentimen positif dipicu harapan kelancaran distribusi energi global yang dapat meredam tekanan inflasi dan suku bunga.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana blokade di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan usai perundingan maraton di Islamabad gagal mencapai kesepakatan damai.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz,” kata Trump.
Ia juga menginstruksikan militer untuk mencegat kapal yang diduga membayar biaya kepada Iran, sekaligus menghancurkan ranjau yang dipasang di jalur tersebut.
Laporan analis menyebut setidaknya dua kapal telah membayar biaya transit kepada Iran menggunakan yuan China demi menjamin keamanan pelayaran. Nilainya bahkan bisa mencapai hingga US$2 juta per kapal.
Meski begitu, jalur energi vital tersebut belum sepenuhnya ditutup. Iran masih mengizinkan sebagian kapal tanker melintas, termasuk untuk ekspor minyaknya sendiri yang mencapai rata-rata 1,85 juta barel per hari hingga Maret, meningkat sekitar 100.000 barel dibanding tiga bulan sebelumnya.
Langkah blokade ini dinilai berpotensi memutus salah satu sumber pendanaan utama Iran, sekaligus meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global yang berdampak luas ke pasar keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































