
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo. -Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Rendahnya cakupan layanan air perpipaan di Kota Jogja menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah upaya menyediakan air bersih yang aman bagi masyarakat. Saat ini, baru sekitar 30% warga yang memanfaatkan layanan air perpipaan, sedangkan sebagian besar lainnya masih mengandalkan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena kualitas air tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan di sekitarnya. Pencemaran sungai berpotensi merembes ke dalam tanah dan memengaruhi kualitas air sumur yang masih banyak digunakan masyarakat Kota Jogja.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, mengatakan cakupan layanan air perpipaan di Kota Jogja masih perlu ditingkatkan untuk mendekati target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang mengacu pada standar World Health Organization (WHO). Dalam target tersebut, sekitar 80% masyarakat diharapkan memiliki akses terhadap layanan air perpipaan yang aman.
"Yang pakai PDAM kan baru 30%. Kalau mengacu pada WHO dan SDGs 2030, air perpipaan itu harus 80% karena air perpipaan yang paling sehat. Airnya dikontrol, ditreatment, dan dijamin tidak ada bakteri," kata Hasto, Selasa (21/7/2026).
Menurut dia, air perpipaan memiliki tingkat keamanan yang lebih terjamin karena melalui proses pengolahan dan pengawasan kualitas secara berkala sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, peningkatan cakupan layanan air perpipaan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga kualitas air yang dikonsumsi warga.
Di sisi lain, layanan sanitasi melalui saluran limbah komunal di Kota Jogja disebut relatif lebih memadai. Namun, cakupan akses air bersih perpipaan masih tertinggal dibandingkan layanan sanitasi yang telah tersedia.
Akibatnya, sekitar 70% warga Kota Jogja masih menggunakan sumber air nonperpipaan, terutama air sumur. Kondisi ini dinilai cukup memprihatinkan mengingat air tanah rentan terpengaruh oleh pencemaran lingkungan di sekitarnya.
"Yang limbah komunal itu sudah lebih mencukupi. Yang masih sedikit itu yang mengakses PDAM, artinya air perpipaan. Sekarang hampir 70% air yang digunakan warga di kota bukan air perpipaan. Itu menurut saya cukup memprihatinkan," ujarnya.
Hasto menjelaskan, pencemaran sungai tidak hanya berdampak pada kualitas air permukaan, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas air tanah yang digunakan masyarakat. Hal itu terjadi karena terdapat hubungan antara air sungai dan air tanah melalui proses perembesan.
Apabila sungai tercemar oleh sampah maupun limbah rumah tangga, maka kualitas air sumur warga juga berpotensi mengalami penurunan. Risiko tersebut menjadi semakin besar apabila masyarakat masih bergantung pada sumber air nonperpipaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia menyinggung masih ditemukannya bakteri Escherichia coli (E. coli) di sejumlah sungai sebagai salah satu indikator pencemaran yang perlu diwaspadai. Keberadaan bakteri tersebut dapat menjadi penanda tercemarnya sumber air yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan apabila tidak ditangani dengan baik.
"Kalau sungainya tercemar, sumur juga akan tercemar karena sumber airnya saling berhubungan. Sungai merembes ke sumur. Kalau sungai dipakai untuk buang sampah dan limbah, mau tidak mau air sumurnya bisa mengandung E. coli. Itu yang saya sendiri agak ngeri," katanya.
Menurut Hasto, peningkatan akses air perpipaan perlu berjalan beriringan dengan upaya pengendalian pencemaran lingkungan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh akses air bersih yang lebih aman, tetapi juga terlindungi dari risiko pencemaran air tanah yang dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Karena itu, upaya membersihkan sungai dari pencemaran dinilai menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar. Pengendalian pencemaran sungai juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sumber air yang hingga kini masih dimanfaatkan oleh sebagian besar warga Kota Jogja.
"Membersihkan sungai dari pencemaran itu menjadi sebuah keniscayaan," ujarnya.
Selain memperluas akses air perpipaan, upaya menjaga kebersihan sungai di Kota Jogja diharapkan dapat memperkuat ketahanan air bersih masyarakat. Mengingat sebagian besar warga masih menggunakan air sumur, kualitas lingkungan menjadi faktor penting untuk memastikan air yang dikonsumsi tetap aman dan memenuhi standar kesehatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































