Pembina Yayasan Anugerah Jaya Disabilitas, Sri Agustini Joekanan bersama karyawan penyandang disabilitas dan non disabilitas yang memproduksi kaki buatan (prostesis) di Desa Dawuan Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fuji Eka Permana/Jurnalis Republika.co.id
Masyarakat penyandang disabilitas kerap menghadapi tembok tinggi ketika memasuki dunia kerja. Kesempatan yang terbatas dan masih minimnya perusahaan yang membuka ruang inklusif membuat banyak dari mereka tersisih sebelum sempat menunjukkan kemampuan. Dalam situasi yang sering kali memunculkan keputusasaan itu, zakat hadir membuka jalan yang semula terasa mustahil bagi sebagian penyandang disabilitas.
Sebagai salah satu instrumen ekonomi dalam Islam, zakat tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sosial, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan yang mampu menguatkan masyarakat Indonesia. Ketika dikelola secara produktif, zakat mampu mengubah mustahik menjadi muzakki. Zakat tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan sesaat, melainkan mendorong kemandirian dan keberlanjutan ekonomi.
Role model keberhasilan dari zakat dikisahkan Sri Agustini Joekanan (62 tahun), penyandang disabilitas ini berhasil bangkit dan menciptakan lapangan kerja bagi sesama disabilitas melalui Yayasan Anugerah Jaya Disabilitas yang memproduksi kaki buatan (prostesis), berlokasi di Desa Dawuan Timur, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
"Alhamdulillah, awalnya dibantu Baznas untuk modal usaha, sekarang sudah menjadi muzakki di Baznas dan sudah mempekerjakan tenaga kerja disabilitas dan non disabilitas," kata Sri saat diwawancarai Republika.co.id, Jumat (13/2/2026)
Sri kini mempekerjakan 13 karyawan, enam karyawan di antaranya penyandang disabilitas daksa dan tuli yang telah dilatih secara khusus. Sementara tujuh orang sisanya karyawan profesional non disabilitas. Semua karyawan telah terlindungi BPJS Ketenagakerjaan.

6 hours ago
3














































